BeritaBisnis

Konsumsi Masih Jadi Andalan Ekonomi, Namun Daya Dorongnya Mulai Berkurang

Avatar photo
15
×

Konsumsi Masih Jadi Andalan Ekonomi, Namun Daya Dorongnya Mulai Berkurang

Sebarkan artikel ini
Konsumsi Masih Jadi Andalan Ekonomi, Namun Daya Dorongnya Mulai Berkurang


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia memasuki kuartal IV 2026. Namun, kualitas penopang konsumsi mulai mendapat perhatian seiring meningkatnya porsi pendapatan yang dibelanjakan dan menurunnya porsi pendapatan yang ditabung.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, persoalan utama ekonomi Indonesia saat ini bukan konsumsi yang tiba-tiba melemah, melainkan kualitas penopangnya yang mulai berkurang.

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan optimisme masyarakat membaik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 naik menjadi 118,5, sementara Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini mencapai 109,4.

Namun, pada saat yang sama, porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 72,7% menjadi 74,2%. Sebaliknya, porsi pendapatan yang ditabung turun dari 16,8% menjadi 15,8%.

“Jadi konsumsi sedang kuat, tetapi sebagian penguatannya berasal dari rumah tangga yang menyisihkan bagian pendapatan lebih kecil untuk tabungan,” ujar Josua kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).

Menurutnya, penurunan porsi tabungan tersebut belum berarti masyarakat secara agregat telah mencairkan stok tabungan lama. Namun, kondisi itu menunjukkan kemampuan rumah tangga untuk membentuk tabungan baru mulai melemah.

Indikator Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menunjukkan hal serupa. Indeks kemauan menabung (IMK) pada Agustus 2026 menguat 1,6 poin secara bulanan menjadi 79,4, tetapi indeks kemampuan menabung (IKPM) justru turun 0,2 poin menjadi 71,8.

Josua menilai kondisi tersebut menunjukkan persoalan bukan terletak pada keinginan masyarakat untuk menabung, melainkan semakin sempitnya ruang pendapatan yang dapat disisihkan.

“Ini berarti persoalannya bukan masyarakat tidak ingin menabung, tetapi ruang pendapatannya untuk menabung semakin sempit,” katanya.

Di sisi lain, membaiknya optimisme konsumen belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi penguatan belanja riil. Penjualan eceran pada Agustus diperkirakan hanya tumbuh 0,5% secara tahunan dan masih turun 0,1% secara bulanan.

Josua menilai, konsumsi rumah tangga juga dinilai tidak dapat menopang pertumbuhan ekonomi sendirian secara berkelanjutan.

Konsumsi rumah tangga memiliki porsi sekitar 53,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar pada kuartal II 2026, yakni sekitar 2,67 poin persentase.

Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) memiliki bobot sekitar 29,36% terhadap PDB. Dengan demikian, konsumsi rumah tangga dan PMTB secara bersama-sama mencapai sekitar 82,68% dari struktur PDB berdasarkan sisi pengeluaran.

Menurut Josua, besarnya porsi tersebut membuat investasi tidak dapat dipandang sekadar sebagai mesin tambahan pertumbuhan. Investasi berperan dalam membentuk kapasitas produksi, produktivitas, lapangan kerja dan pendapatan yang pada akhirnya menopang konsumsi.

“Konsumsi menentukan permintaan hari ini, sedangkan investasi menentukan kapasitas produksi, produktivitas, pekerjaan dan pendapatan yang akan membiayai konsumsi besok,” jelasnya.

Josua menilai, jika konsumsi terus meningkat sementara PMTB melemah, ekonomi masih dapat terlihat kuat dalam beberapa triwulan. Namun, kondisi tersebut berisiko mengurangi fondasi pertumbuhan pada periode berikutnya.

Dari sisi investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) sebenarnya belum mengalami kontraksi. Investasi asing langsung pada triwulan II 2026 mencapai sekitar US$15,6 miliar, tumbuh 23,6% secara tahunan dan sekitar 3,1% secara kuartalan. Secara semester I 2026, PMA tumbuh 13,8%.

Titik lemah justru terlihat pada investasi domestik. Investasi domestik turun 7,8% secara tahunan pada triwulan II 2026 dan sekitar 1,4% selama semester I.

“Jadi kekhawatiran saya lebih tepat diarahkan pada momentum pembentukan modal secara keseluruhan dan lemahnya investasi domestik, bukan menyimpulkan bahwa PMA sudah melemah tajam,” ujar Josua.

Setelah PMTB tumbuh 6,87% pada kuartal II 2026, Josua memperkirakan pertumbuhannya melambat menjadi sekitar 5,53% pada kuartal III dan 5,61% pada kuartal IV.

Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun dari 5,29% pada kuartal II menjadi 5,14% pada kuartal III dan 5,03% pada kuartal IV. Dengan proyeksi tersebut, pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan sekitar 5,26%, di bawah sasaran APBN sebesar 5,4%.

Josua menilai risiko target pertumbuhan ekonomi 2026 meleset sudah muncul bahkan tanpa tambahan pelemahan investasi.

Dalam simulasinya, apabila pertumbuhan PMTB pada kuartal IV hanya sekitar 3,5%, dibandingkan proyeksi 5,61%, pertumbuhan PDB kuartal IV secara mekanis dapat kehilangan sekitar 0,6 poin persentase dengan asumsi komponen lainnya tidak berubah.

Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi setahun diperkirakan sekitar 0,15 poin persentase. Dengan demikian, proyeksi pertumbuhan 5,26% dapat turun mendekati 5,1%.

Jika pertumbuhan PMTB hanya berada di kisaran 2,5%-3% dan konsumsi rumah tangga turut melemah akibat semakin tipisnya tabungan, pertumbuhan ekonomi setahun berpotensi bergerak ke sekitar 5%.

“Dengan skenario tersebut, target 5,4% berpotensi meleset sekitar 0,3-0,4 poin persentase,” kata Josua.

Tantangan lainnya berasal dari biaya pembiayaan. Meskipun BI Rate telah berada di level 5,75%, rata-rata tertimbang suku bunga kredit justru naik dari 8,79% pada Juni menjadi 8,86% pada Juli 2026.

Josua mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan persoalan tidak semata-mata terletak pada jumlah likuiditas di sistem keuangan. Tantangan berikutnya adalah memastikan likuiditas berubah menjadi kredit dengan biaya lebih murah dan selanjutnya mendorong investasi riil.

“Jadi masalahnya kini bukan semata-mata jumlah uang di sistem, tetapi seberapa cepat likuiditas tersebut berubah menjadi kredit dengan harga lebih murah dan kemudian berubah lagi menjadi investasi riil,” ujarnya.

Josua memperkirakan impor riil pada 2026 tumbuh sekitar 6,42%, jauh lebih cepat dibandingkan ekspor yang diperkirakan hanya tumbuh sekitar 2,16%.

Menurutnya, pola tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan dalam jangka pendek, tetapi berisiko meningkatkan kebutuhan devisa dan membuat kapasitas produksi domestik tidak bertambah secepat permintaan.

Karena itu, pemerintah dinilai tidak perlu kembali mengandalkan stimulus konsumsi besar-besaran pada kuartal IV. Dukungan terhadap daya beli tetap diperlukan, terutama bagi kelompok bawah dan menengah, tetapi perlu diarahkan agar rumah tangga tidak terus mengorbankan tabungan.

Di saat yang sama, dorongan kebijakan perlu dialihkan pada investasi yang dapat direalisasikan dengan cepat. Proyek yang perizinan, lahan dan pendanaannya telah siap perlu dipercepat, sementara investasi yang telah memperoleh komitmen perlu didorong masuk ke tahap konstruksi.

Belanja modal pemerintah juga perlu dipercepat tanpa mengorbankan kualitas. Sementara itu, hambatan listrik, logistik dan perizinan di kawasan industri perlu dibenahi.

Dari sisi moneter, Josua menilai insentif likuiditas BI perlu semakin dikaitkan dengan tambahan kredit investasi dan penurunan suku bunga kredit yang benar-benar diterima debitur, khususnya pada sektor manufaktur, ekspor, pangan, perumahan dan UMKM produktif.

“Konsumsi masih cukup kuat untuk mencegah perlambatan tajam pada 2026, tetapi tidak cukup sehat apabila harus terus disokong dengan penurunan porsi tabungan,” pungkas Josua.