PRESSCORNER.ID – ANKARA/WASHINGTON. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman meminta bantuan militer kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membantu memerangi kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran.
Demikian ungkap tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut pada hari Jumat, di tengah meningkatnya ancaman Houthi terhadap Laut Merah.
Trump melakukan setidaknya dua percakapan telepon dengan pemimpin Saudi tersebut pada Kamis lalu dan tidak menyetujui usulan agar AS menyerang Houthi, kata sumber-sumber tersebut.
Washington menyampaikan kepada Riyadh bahwa mereka akan membantu melalui pertukaran intelijen dan penentuan target serangan.
Gedung Putih tidak menanggapi pertanyaan Reuters mengenai apakah ada percakapan telepon antara kedua pemimpin tersebut, namun seorang pejabat senior pemerintah yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan bahwa Washington terus menjalin dialog dengan Arab Saudi dan pemerintah Yaman.
“Amerika Serikat berfokus untuk melindungi kepentingan keamanan nasional utama kami—seperti menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah—sembari memberdayakan mitra regional kami untuk memimpin dalam mengelola dan mengatasi tantangan keamanan kawasan,” ujar pejabat tersebut.
Kantor media pemerintah Saudi tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai percakapan telepon maupun pembicaraan antara kedua pemimpin tersebut.
Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS (US Central Command), melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada hari Kamis untuk melakukan pembicaraan, menurut dua sumber tersebut.
Berita mengenai permintaan kepada Trump ini pertama kali dilaporkan oleh Axios.
Konflik AS dengan Iran telah memasuki bulan ketujuh tanpa tanda-tanda akan segera berakhir. Konflik ini telah memicu kenaikan harga minyak global dan harga bensin di AS, sehingga menurunkan tingkat kepuasan publik terhadap Trump ke titik terendah menjelang pemilihan umum sela bulan November.
Kelompok Houthi yang didukung Iran telah melakukan pergerakan maju yang signifikan di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dalam beberapa hari terakhir, bahkan mencapai pulau strategis Perim di Selat Bab el-Mandeb pada hari Jumat, menurut keterangan empat sumber pemerintah Yaman kepada Reuters.
Penguasaan Houthi atas Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah—yang terletak di sisi Semenanjung Arab yang berlawanan dengan Selat Hormuz—dapat memberikan keuntungan krusial bagi Iran dalam konfliknya dengan AS. Hal ini berpotensi memangkas pasokan melalui jalur transit utama kedua dan menyebabkan lonjakan harga minyak.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, telah mengandalkan jalur Laut Merah sejak konflik dengan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak global.
Eskalasi ketegangan antara Houthi dan Riyadh bermula pada awal Juli, ketika pasukan Houthi berhadapan dengan apa yang mereka klaim sebagai pesawat tempur Saudi yang berusaha mencegah pesawat sipil Iran mendarat di Bandara Internasional Sanaa, Yaman. Aksi saling serang tersebut memutus gencatan senjata empat tahun dalam konflik antara kerajaan tersebut dan kelompok yang berpihak pada Iran itu.
Menurut sumber keempat yang mengetahui masalah ini, Arab Saudi menyampaikan kepada Amerika Serikat pada bulan Juli bahwa mereka mampu menghadapi Houthi sendirian dan menekankan kepada Washington agar konflik tidak meluas. Para pejabat Saudi mendesak rekan-rekan mereka di AS untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Seorang mantan pejabat senior AS yang mengikuti perkembangan terkini mengatakan bahwa langkah pemimpin Saudi menghubungi Trump pada hari Kamis bertujuan untuk menjajaki kemungkinan AS meningkatkan tekanan militer terhadap Houthi, sehingga Riyadh tidak perlu menghadapi kelompok tersebut sendirian.
“Sejauh ini, jawabannya adalah tidak, namun mari kita lihat perkembangannya nanti,” ujar pejabat tersebut. Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari, dan Iran membalas dengan serangan terhadap Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.











