Gaya Hidup

Mitos atau Fakta? Mengenal Produk Tembakau Alternatif Lebih Dekat

Avatar photo
9
×

Mitos atau Fakta? Mengenal Produk Tembakau Alternatif Lebih Dekat

Sebarkan artikel ini
Mitos atau Fakta? Mengenal Produk Tembakau Alternatif Lebih Dekat


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Produk tembakau alternatif kini makin dikenal, terutama di kalangan konsumen perokok dewasa yang ingin beralih dari merokok. Namun, masih banyak anggapan keliru yang menyamakan produk ini dengan rokok. Padahal, produk tembakau alternatif yang mencakup produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektronik (vape), dan kantong nikotin, ternyata masing-masing memiliki karakteristik dan cara kerja yang berbeda.

Lantas, mana yang mitos dan mana yang fakta? Smak informasinya!

1. Mitos: Produk tembakau alternatif bekerja dengan cara yang sama seperti rokok


Fakta: Tidak semua produk tembakau alternatif bekerja dengan mekanisme yang sama. Menurut Akademisi Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB) Mohammad Khotib, karakteristik setiap produk perlu dilihat berdasarkan cara kerjanya.


Rokok menggunakan proses pembakaran tembakau. Proses tersebut menghasilkan asap dan berbagai senyawa berbahaya dari hasil pembakaran. Sementara itu, produk tembakau alternatif menggunakan pendekatan yang berbeda sesuai jenis produknya.


“Perbedaan mendasar dapat dilihat dari proses yang digunakan. Pada rokok terjadi pembakaran tembakau, sementara produk tembakau alternatif tertentu menggunakan proses pemanasan atau mekanisme lain yang tidak sama dengan pembakaran,” ujar Khotib, Jumat (11/9/2026).


Karena itu, menurut dia, masyarakat perlu memahami produk secara spesifik dan tidak menganggap seluruh produk tembakau memiliki karakteristik yang identik.


2. Mitos: Produk tembakau alternatif sama saja dengan rokok karena sama-sama menghasilkan emisi


Fakta: Emisi yang dihasilkan produk tembakau alternatif tidak dapat disamakan dengan asap rokok. Khotib menjelaskan, proses pembakaran pada rokok menghasilkan berbagai senyawa yang terbentuk akibat temperatur tinggi dan reaksi kimia selama pembakaran.


“Pembakaran merupakan proses yang menghasilkan berbagai senyawa toksik dan karsinogenik dari tembakau. Karena itu, penting membedakan antara produk yang menggunakan pembakaran dan produk yang menggunakan mekanisme lain,” kata Khotib.


Pemahaman mengenai perbedaan antara emisi yang dihasilkan dari proses pembakaran dengan pemanasan ini membantu masyarakat melihat bahwa istilah dan mekanisme produk perlu dibedakan. Dengan begitu, pembahasan mengenai produk tembakau alternatif dapat dilakukan berdasarkan karakteristik masing-masing, bukan semata-mata disamakan hanya karena terkait dengan tembakau.


3. Mitos: Vape menghasilkan asap seperti rokok


Fakta: Pada rokok elektronik (vape), yang dihasilkan adalah aerosol atau uap dari proses pemanasan liquid, bukan asap dari pembakaran tembakau seperti di rokok. Dr. Roberto Sussman, peneliti senior dari National Autonomous University of Mexico (UNAM), menjelaskan partikel dari uap vape adalah tetesan cairan yang hampir 100 persen terdiri dari propilen glikol, gliserin nabati, nikotin serta air.


“Aerosol vape yang dihembuskan ini mudah menguap. Tetesannya dapat dengan mudah menguap dan gasnya menyebar dalam waktu sangat singkat, kurang dari satu menit,” ujarnya.


Perbedaan proses kerja tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa berbagai penelitian membandingkan profil risiko antara rokok dan rokok elektronik. Public Health England (PHE), yang kini dikenal sebagai UK Health Security Agency, mempublikasikan hasil kajian berjudul “Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products” pada 2018 lalu. Hasilnya, berkat penerapan sistem pemanasan, rokok elektronik mampu mengurangi paparan risiko hingga 90-95 persen lebih rendah daripada rokok.


4. Mitos: Konsumen tidak perlu memahami legalitas produk tembakau alternatif


Fakta: Konsumen dewasa perlu memperhatikan asal-usul dan legalitas produk yang digunakan. Membedakan produk legal dan ilegal merupakan bagian penting dari edukasi konsumen, terutama karena produk ilegal dapat dimodifikasi atau disalahgunakan.


“Produsen, asosiasi, dan pemerintah perlu bersama-sama menyampaikan informasi yang sederhana, konsisten, dan berbasis fakta. Konsumen juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai produk yang mereka gunakan,” ujar Ketua Umum Asosiasi Konsumen Vape Indonesia Paido Siahaan.


Ia menambahkan, edukasi tidak hanya menjadi tanggung jawab konsumen. Produsen perlu memberikan informasi produk secara tepat, asosiasi dapat membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat, sementara pemerintah berperan dalam menghadirkan komunikasi publik dan pengawasan yang jelas.


Dengan memahami perbedaan karakteristik, mekanisme kerja, dan legalitas setiap produk, konsumen dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok dapat memperoleh informasi yang lebih utuh sebelum menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhannya.