BeritaInternasional

Bank of Japan Buka Peluang Naikkan Suku Bunga September 2026

Avatar photo
5
×

Bank of Japan Buka Peluang Naikkan Suku Bunga September 2026

Sebarkan artikel ini
Bank of Japan Buka Peluang Naikkan Suku Bunga September 2026


PRESSCORNER.ID – ASHEVILLE. Bank of Japan (BOJ) membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga pada September 2026. Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan bank sentral akan membahas kemungkinan kenaikan suku bunga dalam pertemuan bulan ini dengan mencermati perkembangan risiko inflasi.

Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa BOJ berpotensi menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan moneter pada 17-18 September 2026.

Ueda mengatakan BOJ akan mengevaluasi apakah skenario ekonomi yang telah diproyeksikan sebelumnya semakin mungkin terealisasi serta apakah risiko kenaikan harga semakin meningkat.

“Kami berharap untuk terus menaikkan suku bunga karena kondisi keuangan masih akomodatif. Di sisi lain, kami telah menaikkan suku bunga sebanyak lima kali sejauh ini, sehingga kami perlu menilai dengan cermat dampak kumulatifnya terhadap perekonomian,” ujar Ueda dalam konferensi pers setelah menghadiri pertemuan para pemimpin keuangan G20 di Asheville, North Carolina, Selasa (1/9/2026).

“Meski demikian, kami akan menetapkan kebijakan dengan tetap memperhatikan risiko kenaikan inflasi,” lanjutnya.

BOJ Perhatikan Risiko Inflasi

Ueda menegaskan, BOJ belum mengambil keputusan final mengenai kenaikan suku bunga pada September. Namun, bank sentral Jepang akan membahas kondisi ekonomi dan harga secara menyeluruh dalam pertemuan mendatang.

“Kami berharap pada bulan ini dapat terus membahas dengan dewan apakah kemungkinan skenario ekonomi BOJ terwujud semakin besar dan apakah risiko kenaikan harga semakin meningkat,” kata Ueda.

Menurutnya, kondisi ekonomi dan harga terbaru secara umum masih bergerak sesuai dengan proyeksi BOJ dalam laporan prospek kuartalan yang diterbitkan pada Juli 2026.

Meski demikian, inflasi yang mendasari saat ini sudah cukup dekat dengan target BOJ sebesar 2%. Karena itu, bank sentral perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap risiko inflasi dalam menentukan kebijakan moneter.

Ueda menyebut sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, termasuk potensi kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah, tingginya permintaan terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta tekanan inflasi yang berasal dari pelemahan yen.

“Kami akan mencermati apakah perekonomian dan harga bergerak sesuai dengan skenario dasar kami, sekaligus memperhatikan berbagai risikonya. Kami akan membahas faktor-faktor tersebut secara menyeluruh, termasuk dalam pertemuan kebijakan berikutnya,” ujar Ueda.

Tekanan dari AS Makin Menguat

Pernyataan Ueda muncul setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menyampaikan bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah bertemu dengan Ueda.

Dalam pertemuan tersebut, Bessent disebut menyerukan langkah moneter yang “tegas” untuk mengatasi pelemahan yen. Desakan tersebut semakin memperkuat spekulasi bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga pada September.

Ueda mengonfirmasi bahwa dirinya bertemu Bessent pada Minggu (30/8/2026). Namun, dia tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai isi pembicaraan tersebut.

Ueda juga menolak berkomentar ketika ditanya mengenai pasar yang saat ini hampir sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ pada pertemuan September.

Anggota Dewan BOJ Bersikap Hawkish

Sinyal kenaikan suku bunga juga datang dari anggota dewan BOJ yang dikenal hawkish, Hajime Takata.

Dalam pidatonya di wilayah Jepang bagian utara, Takata mengatakan BOJ seharusnya menaikkan suku bunga secara fleksibel mengikuti tekanan inflasi, bukan berdasarkan jadwal tetap setiap enam bulan.

Menurut Takata, langkah tersebut diperlukan untuk mencegah risiko inflasi bergerak terlalu tinggi atau mengalami overshoot.

Pernyataan hawkish dari pejabat BOJ turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bonds (JGB) tenor dua tahun. Imbal hasil obligasi yang sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter tersebut mencapai 1,830% pada Rabu (2/9/2026), level tertinggi sejak 1995.

Sementara itu, imbal hasil JGB tenor 10 tahun Jepang telah menyentuh 3% untuk pertama kalinya sejak 1996. Pergerakan tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan para pemimpin keuangan G20, di tengah meningkatnya inflasi global dan aksi jual di pasar obligasi.

Ueda mengatakan kenaikan imbal hasil JGB terutama dipengaruhi tekanan global terhadap kenaikan imbal hasil obligasi. Meski demikian, BOJ akan tetap mencermati perkembangan pasar keuangan.

BOJ Sudah Lima Kali Naikkan Suku Bunga

BOJ telah menaikkan suku bunga sebanyak lima kali dan pada Juni 2026 menaikkan suku bunga ke level 1%, yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun.

Kenaikan tersebut dilakukan karena BOJ menilai Jepang semakin mendekati kondisi yang memungkinkan inflasi bertahan di sekitar target 2% secara berkelanjutan.

Pada Juli 2026, BOJ memilih mempertahankan suku bunga. Namun, bank sentral memberikan sinyal kuat mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat seiring meningkatnya tekanan harga yang dipicu konflik di Timur Tengah dan pelemahan yen.

Serangkaian pernyataan hawkish dari pejabat BOJ, ditambah desakan berulang dari Bessent agar BOJ menaikkan suku bunga, membuat pasar semakin yakin terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.

Pertemuan kebijakan moneter BOJ dijadwalkan berlangsung pada 17-18 September 2026. Keputusan tersebut akan menjadi perhatian pasar global karena perubahan kebijakan moneter Jepang berpotensi memengaruhi pergerakan yen, obligasi pemerintah Jepang, serta arus modal di pasar keuangan global.