PRESSCORNER.ID – JACKSON HOLE. Pertemuan Jackson Hole tahun ini diliputi suasana ketidakpastian. Reuters melaporkan, mengutip sumber, para pejabat bank sentral Eropa meninggalkan pertemuan tahunan tersebut dengan kekhawatiran norma kerjasama global yang berlaku selama ini sulit dipertahankan.
Selain itu, para bankir di bank sentral Eropa mencemaskan gejolak lebih lanjut dalam hubungan dengan pemerintah Amerika Serikat (AS). Penyebabnya, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kerap mengguncang situasi global.
Kekhawatiran tetap tidak hilang kendati para pejabat bank sentral AS The Federal Reserve berupaya keras meredakan kekhawatiran pejabat bank sentral negara lain. The Fed berjanji untuk memenuhi semua komitmen mereka.
Maklum, mengingat adanya pemisahan antara bank sentral dan pemerintah di AS, The Fed tidak dapat memberikan jaminan apa pun terhadap perubahan kebijakan mendadak oleh Presiden Donald Trump.
Salah satu contohnya adalah intervensi Departemen Keuangan AS baru-baru ini untuk menopang nilai tukar yen Jepang dan menurunkan biaya pinjaman jangka panjang AS. Langkah ini menjadi perhatian khusus karena mengisyaratkan kemungkinan intervensi lebih lanjut.
Seorang pejabat bank sentral asal Eropa menuturkan kepada Reuters, kebijakan tersebut juga dianggap penyimpangan dari norma yang berlaku.
Sekadar memberi konteks, setelah melakukan transaksi yen pada 1 Agustus lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi Departemen Keuangan AS telah menjual euro untuk membeli yen.
Bessent menyebut telah meyakinkan bank-bank sentral di kawasan itu dengan menyebut langkah tersebut hanyalah pengalokasian ulang sumber daya. Bessent menyatakan, aset valuta asing yang digunakan untuk membeli yen berasal dari Exchange Stabilization Fund milik Departemen Keuangan AS.
Para pejabat Eropa merasa sangat kesal karena AS tidak memberikan pemberitahuan awal sebagaimana lazimnya mengenai fakta bahwa penjualan euro merupakan bagian dari transaksi tersebut, ungkap sumber. “Bagi saya, pesannya adalah bahwa AS bertindak sesuka hati mereka,” ujar salah satu sumber.
Juru bicara European Central Bank (ECB) dan The Federal Reserve menolak berkomentar soal ini.
Sumber-sumber tersebut juga mengatakan, rencana Bessent meningkatkan pembelian kembali obligasi tenor panjang menjadi kekhawatiran bagi para pejabat ECB. Salah satunya lantaran transaksi ini mungkin perlu didanai melalui penerbitan lebih banyak surat utang jangka pendek.
Langkah tersebut, seperti halnya pembelian yen, mengindikasikan kesediaan pemerintah untuk mengambil tindakan tidak lazim demi membatasi biaya pinjaman. “Jadi, apa langkah selanjutnya? Akankah pemerintah AS menekan The Fed untuk mulai membeli obligasi di pasar?” tutur seorang sumber.
Pejabat bank sentral Eropa mengkhawatirkan kejadian semacam ini dapat memicu gejolak pasar yang dampaknya jauh melampaui wilayah AS.
Kekhawatiran lain dari pihak Eropa adalah bahwa intervensi politik pada akhirnya dapat menyasar fasilitas penyangga likuiditas dolar yang disediakan The Fed bagi bank-bank sentral terbesar dunia.
Fasilitas swap ini memastikan bank-bank komersial di seluruh dunia tetap memiliki akses terhadap dolar AS, terutama pada saat terjadi tekanan keuangan.
The Fed memperbarui fasilitas ini setiap tahun dengan pertimbangan bahwa langkah tersebut justru melindungi kepentingan dan pasar AS. Tanpa fasilitas ini, bank-bank luar negeri bisa saja terpaksa melepas obligasi AS secara besar-besaran saat terjadi gejolak pasar global.
Nah, ada kekhawatiran fasilitas swap ini dihapus. “Trump bisa saja berkata, ‘Hei, mereka memanfaatkan kita,’ dan fasilitas swap line tersebut bisa lenyap dalam semalam,” cetus seorang sumber.
Kendati begitu, seorang pejabat Departemen Keuangan AS yang tidak bersedia disebut namanya menegaskan, fasilitas penyangga ini sama sekali tidak terancam dan tidak akan berubah. “Keputusan mengenai fasilitas Federal Reserve dan pengaturan swap-line sepenuhnya merupakan wewenang Federal Reserve,” ujar pejabat tersebut.











