PRESSCORNER.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Selasa (25/8/2026), setelah investor mencermati perluasan sanksi Washington terhadap Iran dan upaya pemerintah AS menekan imbal hasil obligasi Treasury tenor panjang.
Di sisi lain, aset kripto terus menguat seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi pelemahan nilai mata uang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (24/8) mengumumkan perluasan sanksi terhadap Iran. Washington memperingatkan negara-negara yang tetap melakukan hubungan bisnis dengan Iran dapat kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar AS.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu faktor yang membalikkan pelemahan dolar AS pada akhir pekan lalu.
“Hal tersebut berpotensi menjadi salah satu sumber pembalikan kecil dari pelemahan dolar yang terjadi pada akhir pekan lalu,” kata Ray Attrill, Kepala Strategi Valas National Australia Bank.
“Jika Anda akan dikenai sanksi dan tidak lagi memiliki akses terhadap dolar AS, mungkin Anda sebaiknya membeli dolar terlebih dahulu sebelum hal itu terjadi,” lanjutnya.
Melansir Reuters, Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,1% menjadi 99,07.
Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan 0,16% pada perdagangan sebelumnya dan menjauhkan dolar dari level terendah tiga bulan.
Euro melemah sekitar 0,1% menjadi US$ 1,1655 dan menuju penurunan untuk hari ketiga berturut-turut setelah mencapai level tertinggi tiga bulan pada pekan lalu.
Poundsterling juga melemah dari level tertinggi enam bulan, terakhir berada di US$ 1,3624.
Sementara itu, yen Jepang melemah menjadi 159,32 per dolar AS. Yen telah menghapus sebagian besar penguatan yang diperoleh setelah intervensi sebelumnya, meski masih jauh dari level terendah dalam beberapa dekade di sekitar 164 per dolar AS.
Dolar Kanada melemah 0,1% menjadi 1,3860 per dolar AS, memperpanjang penurunan 0,6% pada sesi sebelumnya setelah AS mengancam menaikkan tarif barang Kanada menyusul gagalnya pembicaraan perdagangan.
Dolar Australia dan dolar Selandia Baru relatif datar, masing-masing berada di US$ 0,7152 dan US$ 0,5955.
Bitcoin Tembus US$ 80.000
Berbeda dengan mata uang fiat, aset kripto justru melanjutkan penguatan di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang.
Bitcoin menembus level US$ 80.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei. Dengan kenaikan tersebut, Bitcoin telah menguat hampir 30% sepanjang Agustus.
Kenaikan Bitcoin terjadi ketika investor kembali mencari aset alternatif sebagai lindung nilai terhadap risiko penurunan nilai mata uang.
Imbal Hasil Treasury Masih Tinggi
Di pasar obligasi, Treasury AS mendapat sedikit dukungan setelah CNBC melaporkan Departemen Keuangan AS dapat menggunakan sebagian saldo kasnya untuk membeli kembali obligasi tenor panjang.
Langkah tersebut ditujukan untuk membantu menekan biaya pinjaman pemerintah AS.
Sebelumnya, Bessent mengejutkan investor obligasi global pada pekan lalu dengan mengatakan Departemen Keuangan akan menggandakan nilai pembelian kembali obligasi tenor panjang setiap kuartal setelah imbal hasil mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Namun, dampaknya terhadap imbal hasil obligasi masih terbatas.
Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun, yang biasanya sensitif terhadap ekspektasi suku bunga Federal Reserve, berada di 4,246%. Sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun kembali naik menjadi 4,710%.
Investor kini menantikan pidato perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat (28/8) dalam konferensi Jackson Hole di Wyoming.
Pasar mencari petunjuk mengenai lonjakan imbal hasil obligasi sekaligus kepastian mengenai independensi Warsh dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
“Ketidakpastian mengenai fungsi reaksi The Fed, ditambah meningkatnya keraguan terhadap komitmennya dalam memprioritaskan inflasi, membuat perhatian terhadap pernyataan Ketua Warsh semakin tinggi,” kata Sim Moh Siong, strategist valas OCBC.
Menurutnya, ketidakpastian kebijakan yang kembali meningkat membatasi ruang penguatan dolar AS.











