PRESSCORNER.ID -SINGAPURA. Penggunaan stablecoin untuk transaksi kartu pembayaran global diperkirakan terus melonjak dalam beberapa tahun ke depan.
Perusahaan pembayaran stablecoin berbasis Hong Kong, RedotPay, memproyeksikan nilai belanja menggunakan kartu stablecoin secara global dapat mencapai US$50 miliar per tahun pada 2028, atau sekitar empat kali lipat dari level saat ini.
Proyeksi tersebut muncul setelah nilai belanja melalui kartu stablecoin menembus US$1 miliar pada Juli 2026, sekaligus mencatat rekor bulanan baru. Data tersebut mengacu pada Paymentscan, perusahaan yang menyediakan analitik kartu pembayaran kripto.
Stablecoin merupakan jenis aset kripto yang nilainya dipatok pada aset tertentu, umumnya mata uang fiat seperti dolar Amerika Serikat (AS). Mekanisme tersebut dirancang untuk menjaga nilai stablecoin agar relatif stabil dibandingkan aset kripto lain yang memiliki volatilitas tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir, adopsi stablecoin secara global semakin meningkat. Aset digital ini mulai banyak digunakan dalam transaksi lintas negara, pengelolaan treasury perusahaan, penyelesaian transaksi kripto, hingga sebagai penyimpan nilai di negara-negara dengan kondisi ekonomi yang bergejolak.
Amerika Latin Jadi Pasar dengan Adopsi Stablecoin Tertinggi
Co-founder sekaligus Head of Partnerships RedotPay, Jonathan Chan, mengatakan Amerika Latin saat ini menjadi kawasan dengan tingkat adopsi stablecoin yang tinggi sekaligus memiliki potensi pertumbuhan terbesar.
“Amerika Latin memiliki tingkat adopsi dan potensi pertumbuhan terbesar saat ini, diikuti oleh Afrika,” ujar Chan.
Menurut dia, pasar dengan pertumbuhan tercepat tidak selalu merupakan negara atau kawasan yang memiliki penetrasi kripto paling tinggi. Pertumbuhan justru didorong oleh kombinasi kebutuhan pembayaran yang nyata, akses stablecoin yang mudah, serta dukungan regulasi.
“Pasar yang tumbuh paling cepat tidak selalu merupakan pasar dengan penetrasi kripto tertinggi. Pertumbuhan didorong oleh perpaduan beberapa faktor: permasalahan pembayaran yang nyata, akses stablecoin yang mudah, jalur konversi stablecoin ke mata uang fiat yang kuat, serta kejelasan regulasi,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan stablecoin tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan aset kripto. Stablecoin mulai berkembang sebagai instrumen pembayaran yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai kendala dalam transaksi keuangan, terutama pembayaran lintas negara.
Volume Pembayaran RedotPay Tembus US$14 Miliar
RedotPay menyebut jumlah penggunanya kini telah mencapai lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia. Sementara itu, total volume pembayaran tahunan yang disetahunkan atau annualised payment volume perusahaan telah melampaui US$14 miliar.
Angka tersebut mencakup transaksi pengisian saldo atau top-up serta belanja yang dilakukan menggunakan kartu RedotPay.
Pertumbuhan transaksi stablecoin melalui kartu pembayaran menjadi salah satu indikator meningkatnya penggunaan aset digital untuk kebutuhan pembayaran sehari-hari. Jika tren tersebut berlanjut, nilai transaksi stablecoin berpotensi semakin besar dan memperluas peran aset digital dalam sistem pembayaran global.
Proyeksi RedotPay bahwa belanja kartu stablecoin dapat mencapai US$50 miliar per tahun pada 2028 juga mencerminkan ekspektasi bahwa adopsi stablecoin akan terus berkembang, terutama di pasar yang membutuhkan alternatif pembayaran lintas batas yang lebih mudah dan efisien.











