BeritaInternasional

AS Tingkatkan Volume Buyback US Treasury, Bessent: Bisa Ditambah Lagi

Avatar photo
7
×

AS Tingkatkan Volume Buyback US Treasury, Bessent: Bisa Ditambah Lagi

Sebarkan artikel ini
AS Tingkatkan Volume Buyback US Treasury, Bessent: Bisa Ditambah Lagi


PRESSCORNER.ID – WASHINGTON. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa ia kemungkinan akan semakin meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah (Treasury) untuk menenangkan pasar utang pemerintah yang sempat bereaksi negatif setelah pengumuman rencana mengejutkan sehari sebelumnya untuk melipatgandakan volume pembelian kembali.

Bessent, mantan manajer dana lindung nilai (hedge fund) yang memiliki pengalaman luas di pasar utang negara dan mata uang, mengatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang baru-baru ini—yang mendekati level tertinggi dalam dua dekade—tidak beralasan mengingat kuatnya perekonomian AS. 

Ia juga menyoroti rencana pemerintahan Trump untuk memangkas belanja pemerintah yang telah mendorong total utang AS kepada dunia hingga melampaui angka US$ 40 triliun. 

Mengutip Reuters, Jumat (21/8/2026), Departemen Keuangan pada hari Rabu mengumumkan akan melipatgandakan volume pembelian kembali sekuritas tenor panjang selama kuartal mendatang menjadi setidaknya US$ 4 miliar per operasi; memberikan sedikit kelegaan bagi pemerintah dari tingginya imbal hasil obligasi yang dengan cepat meningkatkan biaya pembayaran bunga utang federal.

“Kami akan meningkatkan volume pembelian kembali tersebut,” ujar Bessent dalam sebuah wawancara dengan CNBC. 

“Saya ingin mencatat bahwa jumlahnya bisa lebih besar dari US$ 4 miliar per seri obligasi.” 

Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun tajam pada hari Rabu—penurunan harian terbesar sejak Oktober lalu—setelah langkah Bessent mengejutkan pasar di tengah kondisi likuiditas dan volume perdagangan yang rendah pada akhir musim panas.

Namun, pada hari Kamis, separuh dari penurunan tersebut telah pulih kembali, dan lonjakan singkat penurunan imbal hasil akibat komentarnya kepada CNBC hanya bertahan sesaat. 

Imbal hasil tenor 30 tahun terakhir diperdagangkan pada level 5,24%, hanya terpaut sekitar 10 basis poin dari titik tertingginya pada hari Selasa, saat angka tersebut mencapai level tertinggi sejak Juni 2007.

Bessent, yang awal bulan ini melakukan intervensi gabungan pertama terhadap yen Jepang dalam 15 tahun terakhir, mengatakan kepada CNBC bahwa tujuannya adalah mendukung likuiditas di segmen pasar dengan volume perdagangan rendah—terutama pada bulan Agustus—di saat harus bersaing dengan penerbitan obligasi korporasi dalam jumlah besar dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

“Sebagian tujuannya adalah memberikan sinyal, serta menunjukkan keyakinan kami bahwa tingkat imbal hasil saat ini tidak mencerminkan fundamental yang sebenarnya. Terkait konflik Iran ini, kita pasti akan melaluinya, meski kita tidak tahu kapan,” ujar Bessent.

Sehari setelah total utang publik AS yang beredar melampaui ambang batas simbolis US$ 40 triliun, Bessent menyatakan bahwa ia dan Direktur Anggaran Gedung Putih, Russell Vought, akan memulai upaya konsolidasi fiskal baru atas arahan Presiden Donald Trump. 

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut, dikombinasikan dengan upaya memangkas pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan anggaran, berpotensi menghasilkan penghematan hingga ratusan miliar dolar.

Ia menambahkan bahwa “tidak ada hal ajaib pada angka US$40 triliun tersebut” dan bahwa AS akan mengatasi masalah utang ini melalui pertumbuhan ekonomi. 

Sementara itu, ia menyebutkan bahwa defisit tahun ini membengkak akibat pengembalian dana (refund) atas tarif yang diterapkan Trump—yang sebelumnya dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung. Fenomena ini tidak akan terulang tahun depan, karena tarif baru sedang diterapkan berdasarkan undang-undang perdagangan lain yang telah lolos dari tantangan hukum di pengadilan.

Ia juga memperkirakan pendapatan dari tarif pada tahun 2026 akan setara dengan tahun 2025, namun tidak merinci apakah yang dimaksud adalah tahun kalender atau tahun fiskal. 

Hal lain yang menekan penerimaan adalah “gelombang pembangunan pabrik dan pusat data yang langsung dibebankan terhadap laba perusahaan berdasarkan undang-undang pemotongan pajak tahun 2025 dari Partai Republik, yang menyebabkan penurunan penerimaan pajak perusahaan,” ujar Bessent.

Namun, biaya-biaya yang sulit dikendalikan oleh pemerintah—seperti program jaring pengaman sosial dan Medicare—terus meningkat, begitu pula biaya untuk membiayai defisit. Pembayaran bunga saja sejauh tahun fiskal ini telah mencapai hampir $1,2 triliun, angka yang hampir menyamai total tahun lalu padahal masih tersisa dua bulan dalam tahun anggaran pemerintah.

Imbal hasil obligasi pemerintah yang tinggi—terutama untuk obligasi berjangka panjang—meningkatkan biaya pinjaman bagi dunia usaha dan rumah tangga, tidak hanya bagi pemerintah.

Suku bunga hipotek dengan bunga tetap berjangka waktu 30 tahun—produk utama di pasar perumahan AS—telah naik lebih dari setengah poin persentase ke tingkat tertinggi dalam setahun sejak Trump dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. 

Peristiwa tersebut telah mendorong kenaikan biaya energi dan inflasi secara lebih luas, serta hampir memupus harapan akan adanya penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.