BeritaBisnis

Yield US Treasury Tertinggi Sejak Januari 2025, Investor Tunggu Data Ekonomi

Avatar photo
4
×

Yield US Treasury Tertinggi Sejak Januari 2025, Investor Tunggu Data Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Yield US Treasury Tertinggi Sejak Januari 2025, Investor Tunggu Data Ekonomi


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar obligasi domestik masih dibayangi tekanan dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta tingginya suku bunga global.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bertahan di level 7,34% per 31 Juli 2026. Posisi tersebut naik 18 basis poin (bps) secara bulanan MoM dan meningkat 76 bps dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY), mencerminkan masih tingginya tingkat suku bunga.

Dari sisi aktivitas perdagangan, pasar obligasi mengalami perlambatan menjelang akhir pekan. Volume transaksi obligasi korporasi turun dari Rp 9,71 triliun pada 30 Juli menjadi Rp 8,85 triliun pada 31 Juli. Meski begitu, secara kumulatif sepanjang tahun ini, volume perdagangan obligasi korporasi masih mencapai Rp 843,3 triliun.

Sementara itu, volume perdagangan obligasi pemerintah juga menurun dari Rp 18,24 triliun menjadi Rp 13,48 triliun. Kendati demikian, total volume perdagangan obligasi pemerintah sepanjang tahun telah mencapai Rp 3.550 triliun dan masih mendominasi aktivitas transaksi di pasar surat utang. Di pasar valuta asing, rupiah bergerak stabil di kisaran Rp 18.050 per dolar AS. 

“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap wait and see investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pada pekan ini, seperti inflasi Juli, neraca perdagangan, dan pertumbuhan PDB kuartal II-2026, yang diperkirakan akan memberikan arah bagi prospek kebijakan moneter dan perekonomian Indonesia,” ujar Liza dalam riset yang diterima Kontan, Senin (3/8/2026).

Bersamaan dengan kondisi tersebut, tekanan datang dari kenaikan yield US Treasury. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,73%, tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield tenor dua tahun meningkat menjadi 4,30%.

Kenaikan tersebut dipicu pernyataan bernada hawkish dari sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC), yakni Neel Kashkari, Beth Hammack, dan Lorie Logan. Hal itu memperkuat ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan September mendatang.

Di Jepang, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga kebijakan di level 1,0% sesuai ekspektasi pasar. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor dua tahun naik menjadi 1,51%, sedangkan yield tenor 10 tahun turun ke bawah 2,8% setelah dugaan intervensi pemerintah di pasar valuta asing membantu menopang nilai tukar yen.

Sementara itu, yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun ditutup di atas 5% atau naik 28 bps sepanjang Juli.

Kata Liza, kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, membaiknya stabilitas politik dan komitmen pemerintah baru terhadap disiplin fiskal turut menopang sentimen pasar Inggris.

Adapun dari sisi data ekonomi global, ekspor Korea Selatan meningkat 62,8% secara tahunan menjadi US$ 98,89 miliar pada Juli 2026, melampaui ekspektasi pasar. Selain itu, indeks sentimen konsumen AS versi University of Michigan direvisi naik menjadi 55,2 pada Juli, level tertinggi sejak Februari 2026.