BeritaInternasional

Harga Emas Dunia Menguat, Data Tenaga Kerja AS yang Lemah Redam Tekanan Suku Bunga

Avatar photo
21
×

Harga Emas Dunia Menguat, Data Tenaga Kerja AS yang Lemah Redam Tekanan Suku Bunga

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Dunia Menguat, Data Tenaga Kerja AS yang Lemah Redam Tekanan Suku Bunga


PRESSCORNER.ID – Harga emas melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (2/7/2026), setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Kenaikan logam mulia didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan serta pelemahan harga minyak dunia.

Melansir Reuters hingga pukul 01.03 GMT, harga emas spot naik 0,8% menjadi US$4.063,56 per ons troi. Pada perdagangan Rabu, emas sempat menyentuh US$4.114,99 per ons troi, level tertinggi sejak 23 Juni.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun tipis 0,2% ke US$4.075,60 per ons troi.

Sentimen positif bagi emas datang setelah laporan ADP National Employment Report menunjukkan sektor swasta AS hanya menambah 98.000 lapangan kerja pada Juni.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kenaikan 122.000 pada Mei dan di bawah perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan penambahan 118.000 pekerjaan.

Data tersebut memunculkan sinyal perlambatan pasar tenaga kerja AS sehingga mendorong investor mencari aset lindung nilai seperti emas.

Di sisi lain, harga minyak juga melemah setelah Iran dan Amerika Serikat menyelesaikan putaran pembicaraan tidak langsung mengenai Selat Hormuz.

Meski belum menghasilkan terobosan menuju perdamaian permanen, meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi ikut mengurangi tekanan inflasi global.

Harga minyak yang lebih rendah dinilai dapat meredam ekspektasi inflasi. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Meski demikian, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan bank sentral AS tetap berkomitmen menjaga target inflasi di level 2%. Namun, ia tidak memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter maupun prospek ekonomi AS.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 64% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada September, mencerminkan ekspektasi kebijakan moneter yang masih ketat.

Investor kini menantikan rilis data non-farm payrolls (NFP) AS periode Juni yang dijadwalkan keluar pada Kamis waktu setempat.

Data tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting mengenai langkah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan sekaligus menentukan arah pergerakan harga emas jangka pendek.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga menguat. Harga perak spot naik 1% menjadi US$59,76 per ons troi, platinum menguat 0,4% ke US$1.583,05 per ons troi, sedangkan paladium bertambah 1,1% menjadi US$1.223,80 per ons troi.