PRESSCORNER.ID – MADINAH. Di balik megahnya Masjid Nabawi, terdapat tiga masjid bersejarah yang kerap luput dari perhatian jemaah asal Indonesia.
Meski ukurannya relatif kecil dan tidak seramai kawasan Raudhah maupun makam Rasulullah SAW, ketiganya menyimpan jejak penting perjalanan dakwah Islam pada masa Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin.
Ketiga masjid tersebut adalah Masjid Al-Ghamamah, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Masjid Ali bin Abi Thalib.
Letaknya berada di sisi selatan Masjid Nabawi dan dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki beberapa menit dari pelataran masjid.
Mutawif sekaligus mahasiswa Universitas Islam Madinah Ibrohim Faddlanul Haq menjelaskan bahwa ketiga masjid tersebut memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan aktivitas ibadah Rasulullah SAW dan para khalifah setelah beliau.
Masjid Al-Ghamamah merupakan yang paling dikenal di antara ketiganya. Dalam bahasa Arab, Al-Ghamamah berarti awan yang membawa hujan.
Menurut Ibrohim, pada masa Rasulullah SAW lokasi tersebut masih berupa lapangan terbuka yang digunakan untuk melaksanakan salat berjemaah di ruang terbuka, seperti salat Idulfitri, Iduladha, hingga salat Istisqa atau salat meminta hujan.
Ia menceritakan, suatu ketika Kota Madinah mengalami musim kemarau panjang. Para sahabat kemudian meminta Rasulullah SAW memohon hujan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW lalu mengajak mereka berkumpul di lokasi tersebut untuk melaksanakan salat Istisqa.
“Jadi ketika itu Kota Madinah dalam keadaan paceklik yang sangat parah. Panas tidak berhenti sehingga para sahabat meminta Rasulullah SAW untuk berdoa meminta hujan. Kemudian Rasulullah SAW mengajak para sahabat melaksanakan salat Istisqa di lokasi ini,” tutur Ibrohim di Madinah, Sabtu (27/6/2026).
Usai salat dan berdoa, langit yang semula cerah tiba-tiba dipenuhi awan mendung, lalu turun hujan yang mengguyur Kota Madinah. Peristiwa itulah yang kemudian diyakini menjadi asal-usul nama Al-Ghamamah yang berarti awan pembawa hujan.
Selain menjadi lokasi salat Istisqa, tempat tersebut juga diyakini sebagai lokasi Rasulullah SAW melaksanakan salat Id serta salat gaib untuk Raja Habasyah, An-Najasyi, penguasa yang memberikan perlindungan kepada kaum muslimin saat hijrah ke Habasyah dan kemudian memeluk Islam.
Ibrohim menjelaskan, bangunan Masjid Al-Ghamamah baru didirikan beberapa dekade setelah wafatnya Rasulullah SAW, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pembangunan dilakukan sebagai upaya menjaga lokasi-lokasi bersejarah yang pernah digunakan Rasulullah SAW untuk beribadah.
“Awalnya ini hanyalah lapangan terbuka. Umar bin Abdul Aziz kemudian membangun masjid agar jejak sejarah tersebut tetap terjaga,” ujarnya.
Tak jauh dari Masjid Al-Ghamamah berdiri Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Masjid ini diyakini menjadi tempat Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memimpin pelaksanaan salat Idulfitri, Iduladha, dan salat Istisqa setelah beliau menjadi khalifah.
Sementara itu, di sisi lainnya terdapat Masjid Ali bin Abi Thalib yang dipercaya menjadi lokasi Khalifah Ali bin Abi Thalib memimpin salat Id dan salat Istisqa pada masa pemerintahannya.
Ibrohim menegaskan, nama ketiga masjid tersebut bukan berasal dari tokoh yang membangunnya. Seluruh bangunan itu didirikan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sehingga dalam kajian sejarah juga dikenal sebagai kelompok Masjid Umariyah.
“Penamaannya mengikuti tokoh atau peristiwa yang pernah terjadi di lokasi tersebut. Jadi bukan karena Abu Bakar atau Ali yang membangun masjidnya,” jelasnya.
Bagi jemaah yang berkunjung ke Madinah, ketiga masjid ini dapat menjadi destinasi ziarah tambahan untuk mengenal lebih dekat sejarah perkembangan Islam.
Selain lokasinya yang sangat dekat dengan Masjid Nabawi, masing-masing masjid menyimpan kisah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam.











