BeritaInternasional

Perang Iran Guncang Industri Penerbangan Global, Laba Maskapai Terancam

Avatar photo
6
×

Perang Iran Guncang Industri Penerbangan Global, Laba Maskapai Terancam

Sebarkan artikel ini
Perang Iran Guncang Industri Penerbangan Global, Laba Maskapai Terancam


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Para petinggi maskapai penerbangan dunia yang akan berkumpul di Rio de Janeiro, Brasil, akhir pekan ini diperkirakan akan mencari solusi atas krisis terbesar industri penerbangan sejak pandemi Covid-19.

Konflik Iran yang masih berlangsung telah memicu lonjakan harga bahan bakar pesawat, memaksa maskapai mengubah rute penerbangan, sekaligus menguji kemampuan mereka untuk meneruskan kenaikan biaya kepada penumpang melalui tarif tiket yang lebih tinggi.

Pertemuan tahunan International Air Transport Association (IATA) yang berlangsung pada 6–8 Juni 2026 merupakan forum terbesar industri penerbangan global. Acara ini mempertemukan ratusan eksekutif puncak dari maskapai, produsen pesawat, pemasok, hingga lembaga pembiayaan sektor aviasi.

IATA mewakili lebih dari 370 maskapai yang menguasai sekitar 85% lalu lintas udara global. Organisasi tersebut memiliki peran sentral dalam industri yang sebelumnya diperkirakan akan membukukan laba rekor sebesar US$ 41 miliar pada tahun ini sebelum pecahnya perang Iran.

Namun, para pelaku industri dan analis memperkirakan proyeksi tersebut akan direvisi turun dalam pertemuan kali ini.

Pembahasan diperkirakan akan berfokus pada kenaikan tajam harga bahan bakar, kekhawatiran terhadap pasokan energi, gangguan ruang udara Timur Tengah, keterlambatan pengiriman pesawat yang semakin parah, serta kemungkinan semakin jauhnya industri dari target pengurangan emisi karbon.

Maskapai Mulai Naikkan Tarif

Berbagai maskapai di seluruh dunia telah merespons tekanan tersebut dengan menaikkan harga tiket, memangkas rute yang tidak menguntungkan, dan memperketat pengelolaan kas hingga kondisi membaik.

Situasi ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan industri mencapai target emisi nol bersih (net-zero emissions) pada 2050. Pasalnya, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) masih memiliki harga yang mahal dan pasokannya terbatas.

Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings pekan lalu menurunkan prospek sektor maskapai global dari stabil menjadi negatif. Menurut Moody’s, kenaikan biaya bahan bakar akibat perang Iran serta gangguan di sekitar Selat Hormuz akan “secara material mengurangi” laba operasional maskapai pada tahun ini.

Moody’s memperkirakan laba industri penerbangan dapat turun lebih dari 35% pada 2026 sebelum kembali pulih pada tahun berikutnya.

Data IATA juga menunjukkan lalu lintas penumpang global pada April 2026 mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak pemulihan pascapandemi. Penurunan tersebut terutama dipicu oleh melemahnya kinerja maskapai-maskapai Timur Tengah.

CEO Air India yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Campbell Wilson, mengatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar dan penutupan ruang udara membuat sejumlah rute semakin sulit dipertahankan secara ekonomi.

“Ketika harus menghadapi seluruh dinamika persaingan tersebut, ditambah biaya penerbangan yang lebih panjang dan kenaikan biaya bahan bakar, sejumlah rute menjadi tidak lagi ekonomis untuk dioperasikan,” ujar Wilson.

Kemampuan Maskapai Menaikkan Tarif Tidak Merata

Maskapai yang memiliki permintaan kuat dan proporsi penumpang premium lebih besar memiliki ruang yang lebih luas untuk menaikkan tarif. Namun, kemampuan untuk mengalihkan kenaikan biaya bahan bakar kepada pelanggan berbeda-beda di setiap pasar dan model bisnis.

CEO Southwest Airlines, Bob Jordan, mengatakan maskapai-maskapai Amerika Serikat telah menaikkan tarif sebanyak tujuh kali sejak Februari tanpa melihat adanya pelemahan permintaan.

Meski demikian, Jordan menegaskan bahwa tarif yang berlaku saat ini masih “belum mendekati” tingkat yang cukup untuk menutupi lonjakan biaya bahan bakar.

Maskapai-maskapai Teluk juga menghadapi ujian berat. Emirates dan Qatar Airways sangat bergantung pada hub penerbangan di Dubai dan Doha, sementara Etihad Airways tengah kembali melakukan ekspansi dari Abu Dhabi setelah sebelumnya mengurangi ambisi globalnya.

Perang Iran memang belum meruntuhkan model bisnis hub penerbangan kawasan Teluk. Namun, pengalihan rute telah menunjukkan tingginya ketergantungan model tersebut terhadap akses ruang udara yang stabil dan terbuka. Waktu tempuh penerbangan menjadi lebih panjang dan konsumsi bahan bakar meningkat.

Di sisi lain, gangguan tersebut menciptakan peluang bagi maskapai yang menawarkan penerbangan langsung antara Asia dan Eropa, seperti Lufthansa Group, Air France-KLM, Singapore Airlines, dan Cathay Pacific.

Bagi maskapai Eropa, situasinya relatif beragam. Sebagian dapat memperoleh keuntungan dari tekanan yang dialami maskapai Teluk pada rute jarak jauh. Namun, kenaikan harga bahan bakar juga memperburuk tekanan yang sudah ada akibat penutupan ruang udara Rusia, gangguan layanan pengatur lalu lintas udara, serta kewajiban penggunaan SAF.

Asia dan Amerika Latin Ikut Tertekan

Di Asia, Air India harus menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan rute penerbangan yang lebih panjang. Sementara itu, IndiGo masih dibayangi keterbatasan pasokan pesawat dan masalah mesin Pratt & Whitney.

Pelemahan nilai tukar mata uang juga memperbesar biaya bahan bakar bagi maskapai Jepang. Sementara Air New Zealand telah memperingatkan potensi penurunan laba yang signifikan.

Di Amerika Latin, guncangan harga bahan bakar bertemu dengan volatilitas mata uang dan daya beli konsumen yang terbatas untuk menerima kenaikan tarif tiket.

LATAM telah memangkas proyeksi laba karena lonjakan biaya bahan bakar. Sementara maskapai Brasil, Azul, masih sangat rentan terhadap kenaikan harga energi dan gejolak nilai tukar.

Kekurangan Pesawat dan Mesin Perburuk Tekanan

Masalah industri tidak berhenti pada harga bahan bakar. Keterlambatan pengiriman pesawat dari Boeing dan Airbus memaksa banyak maskapai mempertahankan armada lama yang lebih boros bahan bakar, sehingga semakin menekan margin keuntungan.

CEO United Airlines, Scott Kirby, mengatakan bahwa mesin pesawat dan komponen pendukung kini menjadi hambatan utama industri.

Menurut Kirby, sekitar 800 hingga 900 pesawat di seluruh dunia saat ini tidak dapat beroperasi akibat berbagai masalah terkait mesin.

“Jumlah mesin yang tersedia tidak mencukupi dan kondisi ini kemungkinan akan berlangsung selama bertahun-tahun ke depan,” kata Kirby dalam konferensi Bernstein pekan lalu.

Konsolidasi Industri Mulai Mengemuka

Lonjakan harga bahan bakar juga kembali memunculkan wacana konsolidasi industri penerbangan global. Maskapai dengan margin tipis dan daya tawar harga yang lemah dinilai akan semakin kesulitan menyerap kenaikan biaya operasional.

Kondisi tersebut tercermin dari bangkrutnya maskapai berbiaya rendah Amerika Serikat, Spirit Airlines, bulan lalu.

Perusahaan investasi dan penyewaan pesawat asal AS, Castlelake, yang juga menjadi investor maskapai SAS di Skandinavia, dikabarkan tengah mempertimbangkan penawaran terhadap maskapai berbiaya rendah Inggris, easyJet.

Sementara itu, pendekatan informal United Airlines untuk melakukan merger dengan American Airlines kembali menyoroti potensi gelombang konsolidasi di pasar Amerika Serikat.

Meski American Airlines menolak gagasan tersebut dan pemerintah AS menunjukkan resistensi terhadap transaksi semacam itu, pembicaraan mengenai merger dan akuisisi di sektor penerbangan diperkirakan akan terus menguat seiring meningkatnya tekanan biaya.