BeritaInternasional

BURSA ASIA-IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Rupiah Ambruk ke Rp 17.930

Avatar photo
13
×

BURSA ASIA-IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Rupiah Ambruk ke Rp 17.930

Sebarkan artikel ini
BURSA ASIA-IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Rupiah Ambruk ke Rp 17.930


PRESSCORNER.ID – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan besar pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 5% ke level terendah dalam lima tahun terakhir, sementara nilai tukar rupiah melemah ke rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters berdasarkan data perdagangan, IHSG anjlok 5,2% dan mencatat hari terburuk dalam lebih dari dua bulan terakhir. Pada saat yang sama, rupiah terpuruk hingga menyentuh level Rp 17.930 per dolar AS.

Tekanan tersebut terjadi di tengah menguatnya dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak berkepanjangan harga energi yang tinggi terhadap perekonomian Indonesia.

Data yang dirilis pada Selasa (2/6) menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut ke level terendah dalam enam tahun terakhir.

Sementara itu, inflasi Mei bergerak mendekati batas atas target yang ditetapkan Bank Indonesia (BI).

Kondisi tersebut muncul hanya dua pekan setelah BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin guna meredam tekanan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Chief Economist PermataBank Josua Pardede menilai, kombinasi sejumlah faktor menjadi pemicu utama pelemahan pasar domestik.

“Pemicu yang paling langsung adalah kenaikan harga minyak, surplus perdagangan April yang hampir habis, pelemahan rupiah ke rekor terendah baru, serta kekhawatiran bahwa posisi fiskal Indonesia akan semakin sulit dipertahankan jika harga energi tetap tinggi,” ujarnya.

Harga Energi Tinggi Tekan Ekonomi Importir

Lonjakan harga energi global menjadi tantangan besar bagi negara-negara Asia Tenggara yang masih bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia dan Filipina.

Kenaikan biaya impor energi berpotensi mempersempit surplus perdagangan, memperbesar tekanan terhadap transaksi berjalan, serta memicu arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

Kondisi tersebut pada akhirnya menekan mata uang lokal dan meningkatkan risiko inflasi.

Selain Indonesia, sejumlah mata uang Asia juga berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar AS.

Peso Filipina masih berada di dekat level terendah sepanjang masa, sedangkan ringgit Malaysia melemah ke posisi terendah dalam dua bulan terakhir.

Bursa Asia Bergerak Beragam

Berbeda dengan Indonesia, pasar saham di beberapa negara Asia justru menunjukkan kinerja positif.

Bursa saham Filipina naik hampir 2% dan mencatat penguatan untuk tiga sesi berturut-turut setelah pemerintah mengumumkan penurunan harga bahan bakar di tingkat ritel.

Kepala Riset Maybank Securities Kervin Sisayan mengatakan, penurunan harga minyak dari puncak yang terjadi saat konflik Timur Tengah memanas mulai tercermin pada harga BBM domestik.

“Penurunan harga BBM di tingkat konsumen menjadi perkembangan positif untuk membantu mengendalikan inflasi,” katanya.

Sementara itu, indeks saham Singapura naik hingga 1,1% dan mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa, didukung penguatan saham perbankan besar seperti DBS Group dan OCBC.

Di Malaysia, indeks saham utama menguat 0,6%, meskipun ringgit melemah ke level 3,98 per dolar AS.

Ancaman Tarif Baru AS Tambah Ketidakpastian

Sentimen pasar regional juga dibayangi rencana pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang mengusulkan tambahan tarif impor sebesar 10%-12,5% terhadap produk dari 60 negara ekonomi, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Tarif tersebut dikaitkan dengan isu kegagalan memenuhi standar terkait praktik kerja paksa dalam rantai pasok.

Kebijakan tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap negara-negara Asia yang bergantung pada ekspor, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik yang masih berlangsung.

Dengan kombinasi tekanan dari harga energi, pelemahan rupiah, serta meningkatnya risiko eksternal, pelaku pasar kini mencermati langkah lanjutan Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.