BeritaInternasional

Nikkei Cetak Rekor, SoftBank Salip Toyota Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Jepang

Avatar photo
12
×

Nikkei Cetak Rekor, SoftBank Salip Toyota Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Jepang

Sebarkan artikel ini
Nikkei Cetak Rekor, SoftBank Salip Toyota Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Jepang


PRESSCORNER.ID – TOKYO. Demam kecerdasan buatan (AI) kembali mengangkat pasar saham Jepang. Indeks Nikkei 225 untuk pertama kalinya menembus level 67.000 pada perdagangan Senin (1/6/2026), didorong lonjakan saham-saham terkait AI yang dipimpin oleh SoftBank Group.

Tidak hanya mendorong pasar ke rekor baru, reli tersebut juga mengantarkan SoftBank menyalip Toyota Motor sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Jepang.

Pada perdagangan sesi pagi, Nikkei naik 1,1% ke level 67.038,24 setelah sempat menyentuh posisi tertinggi intraday di 67.231,28. Kenaikan indeks sebagian besar ditopang oleh saham SoftBank yang melonjak 10,3%.

Lonjakan tersebut membuat kapitalisasi pasar SoftBank membengkak menjadi sekitar ¥ 47,2 triliun atau setara US$ 296 miliar. Angka itu melampaui nilai pasar Toyota yang turun menjadi sekitar ¥ 45,7 triliun setelah saham produsen otomotif tersebut terkoreksi 4,8%.

Sentimen positif terhadap SoftBank muncul setelah perusahaan investasi teknologi itu mengumumkan komitmen investasi sebesar € 75 miliar atau sekitar US$ 87,3 miliar selama lima tahun untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan di Prancis.

Reli saham AI juga terlihat pada sejumlah emiten teknologi lainnya. Saham Murata Manufacturing, produsen komponen elektronik yang memasok berbagai kebutuhan industri teknologi, melonjak 14,1% dan menjadi saham dengan kenaikan terbesar di indeks Nikkei.

Strategis Nomura Securities, Maki Sawada, mengatakan minat investor terhadap saham AI semakin meluas seiring meningkatnya ekspektasi permintaan server dan infrastruktur pendukung kecerdasan buatan.

“Dengan prospek permintaan server AI yang terus berkembang, minat beli kini mulai menyebar ke saham-saham terkait AI yang sebelumnya tertinggal,” ujarnya.

Meski demikian, Sawada mengingatkan bahwa kekhawatiran mengenai valuasi saham teknologi masih cukup tinggi. Selain itu, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor risiko yang dapat memicu volatilitas pasar.

Berbeda dengan Nikkei, indeks Topix yang mencerminkan pergerakan pasar secara lebih luas justru turun 0,2%. Kondisi ini menunjukkan kenaikan pasar masih terkonsentrasi pada saham-saham teknologi dan AI.

Dari 33 sektor industri yang tercatat di Bursa Efek Tokyo, hanya delapan sektor yang menguat. Sektor teknologi informasi menjadi pemimpin kenaikan dengan lonjakan 4,3%, sementara sektor otomotif menjadi salah satu yang terburuk dengan penurunan 4,2%.

Bahkan di dalam indeks Nikkei sendiri, hanya 73 saham yang menguat, sedangkan 152 saham lainnya melemah.

Tidak semua saham terkait semikonduktor ikut menikmati reli. Saham Advantest turun 2,2%, sementara Fujikura terkoreksi 3,6%.

Di kelompok otomotif, Mitsubishi Motors menjadi saham dengan penurunan terbesar setelah anjlok 9,1%. Mitra aliansinya, Nissan Motor, juga tertekan dengan penurunan 7,2%.

Kinerja pasar Jepang sebelumnya mendapat dorongan dari optimisme tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah. Namun, memasuki pekan ini, pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai masih menyisakan sejumlah perbedaan penting.

Meski risiko global belum sepenuhnya mereda, euforia terhadap prospek bisnis kecerdasan buatan untuk sementara berhasil membawa pasar saham Jepang mencetak rekor baru dan mengangkat SoftBank ke posisi puncak perusahaan paling bernilai di negara tersebut.