PRESSCORNER.ID – SINGAPURA. Negara-negara di kawasan Indo-Pasifik semakin mempercepat penguatan kemampuan pertahanan mereka di tengah pesatnya peningkatan kekuatan militer China dan munculnya keraguan mengenai fokus Amerika Serikat (AS) terhadap kawasan yang selama ini menjadi wilayah pengaruh utamanya.
Dalam forum pertahanan terbesar Asia, Shangri-La Dialogue yang berlangsung di Singapura pada Sabtu (30/5/2026), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mendorong negara-negara mitra di kawasan untuk mengambil porsi tanggung jawab keamanan yang lebih besar.
Namun, ia juga menghadapi kekhawatiran bahwa perhatian Washington mulai terpecah oleh berbagai konflik global, termasuk ketegangan dengan Iran.
“Kami dapat melakukan dua hal pada saat yang bersamaan,” kata Hegseth dalam forum yang mempertemukan para menteri pertahanan, pejabat militer, dan intelijen dari berbagai negara tersebut.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan keyakinannya bahwa komitmen AS terhadap kawasan Indo-Pasifik tetap kuat.
“Saya percaya komitmen Amerika Serikat tetap tidak tergoyahkan,” ujar Koizumi, meskipun ia mengakui masih ada sejumlah negara yang mungkin meremehkan keseriusan Washington.
Negara-Negara Kawasan Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Dalam wawancara dengan Reuters di sela-sela pertemuan, sejumlah pejabat pertahanan kawasan menegaskan bahwa negara-negara Indo-Pasifik kini semakin aktif memperkuat kerja sama satu sama lain, tidak hanya mengandalkan payung keamanan tradisional dari Amerika Serikat.
Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro mengatakan terdapat kesepahaman di antara para pemimpin pertahanan kawasan untuk meningkatkan kemampuan militer masing-masing secara cepat dan fleksibel.
“Semua menteri pertahanan yang hadir di sini sepakat mengenai perlunya peningkatan kemampuan pertahanan nasional yang lebih lincah dan cepat,” kata Teodoro.
Menurutnya, langkah tersebut bertujuan memperkuat peran tradisional AS sebagai penjamin keamanan kawasan. Filipina sendiri terus memperdalam hubungan pertahanan dengan Jepang, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.
“Komitmen Amerika Serikat menjadi semakin kuat ketika lebih banyak negara terlibat, setidaknya dalam fase pencegahan, karena terdapat ancaman yang sama,” tambahnya.
Jepang Siap Menjadi Penghubung Pertahanan Kawasan
Jepang berupaya memposisikan diri sebagai pusat jaringan kerja sama pertahanan regional yang lebih luas.
Koizumi mengatakan Tokyo ingin menjadi “titik penghubung” bagi penguatan kerja sama negara-negara kawasan di luar hubungan dengan China.
Pada April lalu, Jepang mengumumkan reformasi terbesar dalam aturan ekspor pertahanannya selama beberapa dekade. Pemerintah mencabut sejumlah pembatasan penjualan persenjataan ke luar negeri, sehingga membuka peluang ekspor kapal perang, rudal, dan berbagai peralatan militer lainnya.
“Jepang akan menjadi lebih proaktif dalam kerja sama peralatan pertahanan,” kata Koizumi.
“Tujuan kami adalah memastikan setiap negara memiliki kemampuan yang dibutuhkan dan dapat memperolehnya ketika diperlukan,” lanjutnya.
Singapura dan Kanada Dorong Kemitraan yang Lebih Fleksibel
Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing menilai situasi geopolitik saat ini menuntut terbentuknya kemitraan yang lebih fleksibel di antara negara-negara yang memiliki pandangan serupa.
“Kita perlu mengembangkan kemitraan yang fleksibel dengan negara-negara yang sejalan, membentuk koalisi negara-negara yang mampu dan bersedia bekerja sama,” ujarnya.
Menurut Chan, pendekatan tersebut dapat membantu negara-negara kawasan menjembatani berbagai kesenjangan, menguji ide-ide baru, dan menemukan jalur kerja sama di bidang yang belum pernah dijajaki sebelumnya.
Sementara itu, Kepala Staf Pertahanan Kanada Jenderal Jennie Carignan mengatakan negaranya terus memperluas kehadiran di kawasan Indo-Pasifik. Kanada meningkatkan kerja sama keamanan siber dan latihan maritim dengan Jepang dan Filipina, serta membantu Indonesia melalui program pelatihan bahasa Inggris bagi personel militer.
“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di kawasan Indo-Pasifik. Karena itu, kita melihat peningkatan kerja sama di berbagai bidang,” kata Carignan.
Selandia Baru Pertimbangkan Modernisasi Armada Militer
Selandia Baru juga tengah mengevaluasi penguatan hubungan pertahanan sekaligus modernisasi peralatan militernya.
Menteri Pertahanan Selandia Baru Chris Penk mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan pembelian kapal perang dari Jepang maupun Inggris untuk menggantikan fregat kelas ANZAC yang telah menua.
Penk juga bertemu dengan para menteri pertahanan Singapura, Malaysia, Australia, dan Inggris untuk membahas penguatan kerja sama dalam kerangka Five Power Defence Arrangements (FPDA), pakta pertahanan yang telah berlangsung selama 54 tahun.
Menurut Penk, terdapat ruang untuk meningkatkan intensitas kerja sama dalam perjanjian tersebut.
“Jika kami dapat menemukan cara-cara baru untuk berinteraksi dengan negara lain sambil tetap mempertahankan hubungan yang sudah ada, maka kami akan melakukannya secara bersamaan,” ujarnya.
Negara-Negara Asia Tetap Percaya pada Komitmen AS
Meski kerja sama pertahanan antarnegara kawasan semakin berkembang, para pejabat Asia menegaskan bahwa mereka tetap yakin terhadap komitmen Amerika Serikat di Indo-Pasifik, meskipun Washington juga terlibat dalam berbagai isu di Timur Tengah dan menerapkan kebijakan ‘America First’ di bawah Presiden Donald Trump.
“Kami tidak kehilangan kepercayaan hanya karena keterlibatan Amerika Serikat di Iran, misalnya, atau di kawasan lainnya,” kata Teodoro.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menyebut hubungan dengan Amerika Serikat sebagai fondasi utama keamanan nasional negaranya.
“Bagi kami berdua, baik pemerintahan Trump maupun pemerintahan Albanese di Australia, kami melihat diri kami sebagai penjaga hubungan yang jauh melampaui masa jabatan kami masing-masing,” kata Marles kepada Reuters.











