PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pasar saham Hong Kong diperkirakan berada di bawah tekanan jual pada perdagangan Selasa (26/5/2026) setelah pemerintah Beijing memperketat pengawasan terhadap transaksi saham lintas batas ilegal.
Kebijakan ini menekan sentimen investor karena berpotensi mengganggu arus investasi senilai sekitar US$ 30 miliar yang selama ini mengalir ke pusat keuangan Asia tersebut.
Tekanan pasar muncul saat bursa Hong Kong kembali dibuka setelah libur publik.
Pelaku pasar merespons langkah regulator China yang pada akhir pekan lalu menjatuhkan sanksi kepada sejumlah broker online seperti Tiger, Futu, dan Longbridge karena diduga memfasilitasi aliran dana investor China ke luar negeri tanpa izin resmi.
Kebijakan pengetatan ini tidak berhenti pada sanksi saja. Otoritas juga mewajibkan penutupan bertahap akun perdagangan ilegal dalam dua tahun ke depan.
Secara keseluruhan, langkah tersebut diperkirakan berdampak pada aset hingga HK$ 420 miliar atau sekitar US$ 53,6 miliar, termasuk sekitar HK$ 294 miliar aset yang berada di Hong Kong, menurut estimasi Kaiyuan Securities.
“Sentimen pasar bisa terguncang dalam jangka pendek, tetapi dampaknya terhadap likuiditas jangka panjang terbatas,” tulis laporan broker tersebut menjelang pembukaan pasar.
Efek kebijakan ini sudah terasa di luar negeri. Di New York, indeks Nasdaq Golden Dragon China turun sekitar 2% pada Jumat, sementara ETF KraneShares CSI China Internet melemah 3%. Saham induk Tiger, UP Fintech, bahkan anjlok hingga 25%.
Dengan dibukanya kembali perdagangan di Hong Kong, indeks teknologi Hang Seng—yang banyak menjadi favorit investor daratan China—diperkirakan ikut tertekan.
Selain itu, saham berkapitalisasi kecil juga berpotensi melemah akibat kekhawatiran penurunan likuiditas, termasuk sejumlah broker lokal yang rentan menjadi target aksi jual.
Sementara itu, di kawasan lain, pasar saham Australia diperkirakan dibuka menguat tipis. Kontrak berjangka indeks ASX 200 naik 0,3% didukung penguatan harga komoditas serta optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai Iran–United States.
Di sisi lain, indeks utama New Zealand juga tercatat menguat 1,6% pada awal perdagangan.











