Presscorner.id — Kalangan akademisi dan profesional di Sulawesi Selatan mulai mendorong penguatan ruang intelektual dan kajian kebijakan di tengah kebutuhan publik terhadap fungsi penyeimbang dan kontrol sosial yang dinilai mulai melemah.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan silaturahmi calon pengurus Majelis Kajian Pembangunan Daerah (MKPD) Center for Information and Development Studies (CIDES) Sulawesi Selatan yang digelar di Red Corner Cafe & Resto, Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Makassar, Sabtu (23/5/2026).
Pertemuan tersebut dipimpin Ketua Orwil ICMI Sulsel, Prof. Dr. Arismunandar, bersama akademisi Unhas yang juga Ketua Forum Dosen Sulsel, Dr. Adi Suryadi Culla, Dekan FISIP Unismuh Makassar Dr. Andi Luhur Prianto, serta sejumlah tokoh akademisi, media, dan unsur profesional dari berbagai institusi di Sulsel.
Dalam pertemuan itu, Prof. Arismunandar menjelaskan bahwa CIDES merupakan badan otonom ICMI yang sebelumnya aktif di tingkat pusat dan kini mulai dikembangkan di daerah, termasuk Sulawesi Selatan.
Menurutnya, pembentukan CIDES di daerah tidak terlepas dari kebutuhan publik terhadap ruang diskusi dan kajian strategis di tengah berbagai persoalan yang berkembang saat ini.
“Awalnya CIDES hanya ada di pusat, kini dikembangkan di daerah karena situasi politik dan kebutuhan publik terhadap sejumlah persoalan yang terjadi di daerah. Selain itu, fungsi penyeimbang, kontrol, dan pengawasan terhadap pemerintah akhir-akhir ini dinilai mulai melemah,” kata Arismunandar.
Ia mengatakan, CIDES nantinya akan fokus pada riset kebijakan, forum diskusi rutin, hingga penerbitan jurnal ilmiah.
“Terkait diskusi, di pusat itu rutin dilakukan setiap bulan membahas isu-isu kekinian agar bisa menjadi penyeimbang sekaligus mendorong isu-isu strategis di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Adi Suryadi Culla menyebut CIDES memiliki posisi strategis dalam menyusun rekomendasi kebijakan berbasis data dan hasil riset.
Ia menegaskan, CIDES tidak hanya bergerak dalam pengkajian pembangunan, tetapi juga membawa perspektif keislaman dan keindonesiaan sebagaimana yang tertuang dalam AD/ART organisasi.
“Yang membedakan CIDES ini dengan organisasi lain karena ini bagian dari ICMI yang juga membahas tentang keislaman. Jadi kita mewarnai opini maupun temuan riset dengan nilai-nilai keislaman, keagamaan, dan keindonesiaan,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Andi Luhur Prianto mengatakan pertemuan tersebut juga difokuskan untuk mematangkan struktur kepengurusan CIDES Sulsel sebelum dilakukan pelantikan resmi.
“Kami membahas divisi-divisi yang masih perlu dilengkapi dan terus berkoordinasi dengan pengurus pusat. Jika struktur pengurus sudah rampung, maka dalam waktu dekat kami akan menggelar pelantikan pengurus sekaligus menyusun agenda kerja organisasi,” katanya.
Ia berharap kehadiran CIDES Sulsel dapat menjadi wadah intelektual dan ruang diskusi strategis dalam memberikan masukan konstruktif terhadap pembangunan daerah di Sulawesi Selatan.











