PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia mulai berubah seiring munculnya sejumlah indikator ekonomi yang melemah hingga April 2026.
Meski pasar belum menilai Indonesia masuk fase krisis, investor dinilai mulai lebih kritis dalam melihat kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi domestik.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, pasar kini tidak lagi hanya fokus pada tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati fondasi yang menopang pertumbuhan tersebut.
“Pasar memang mulai mengubah cara membaca prospek ekonomi Indonesia, tetapi belum sampai pada kesimpulan bahwa ekonomi Indonesia masuk fase krisis,” ujar Josua kepada PRESSCORNER.ID, Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61% memang terlihat solid.
Namun, pertumbuhan tersebut banyak ditopang faktor musiman seperti Ramadan dan Idulfitri, peningkatan belanja pemerintah, serta efek basis rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Setelah periode tersebut, pasar mulai dihadapkan pada sejumlah sinyal pelemahan ekonomi.
Cadangan devisa Indonesia turun dari US$ 148,2 miliar menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026.
Pada saat yang sama, rupiah melemah tajam, indeks manufaktur masuk zona kontraksi dengan PMI manufaktur April berada di level 49,1, dan arus keluar dana asing dari pasar saham masih berlanjut.
Menurut Josua, kombinasi berbagai indikator tersebut membuat investor mulai mempertanyakan kekuatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II-2026.
Tekanan juga datang dari hasil peninjauan indeks MSCI pada Mei 2026. Dalam evaluasi tersebut, Indonesia tidak memperoleh tambahan saham di indeks MSCI Global Standard dan justru mencatat enam penghapusan saham.
Sementara di indeks MSCI Small Cap, hanya ada satu saham yang ditambahkan dan 13 saham dihapus.
“Ini bukan hanya persoalan teknis indeks, tetapi menjadi sinyal bahwa pasar saham Indonesia sedang menghadapi persoalan likuiditas, transparansi, dan kepercayaan investor,” katanya.
Meski demikian, Josua menilai investor global masih membedakan tekanan di pasar saham dengan risiko gagal bayar negara.
Hal itu tercermin dari credit default swap (CDS) Indonesia yang relatif stabil di tengah gejolak pasar saham dan pelemahan rupiah.
Menurut dia, investor obligasi global masih melihat fundamental makroekonomi Indonesia cukup kuat karena cadangan devisa tetap tinggi dan disiplin fiskal masih terjaga.
Posisi cadangan devisa April 2026 masih setara 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Pasar saham sedang menghukum risiko likuiditas dan tata kelola pasar, sementara CDS masih melihat penyangga makro Indonesia cukup kuat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pasar obligasi juga relatif lebih stabil dibanding pasar saham karena masih didukung imbal hasil surat utang negara (SBN) yang menarik, kebijakan stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia, serta dominasi investor domestik seperti perbankan, asuransi, dan dana pensiun.
Namun, Josua mengingatkan tekanan di pasar obligasi mulai terlihat. Hal itu tercermin dari lelang SBN pada 13 Mei 2026 yang mencatat permintaan terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir.
“Pasar obligasi lebih tenang dibanding saham karena masih punya jangkar imbal hasil dan dukungan kebijakan. Namun, minat investor mulai melemah akibat tekanan rupiah, kenaikan harga minyak, dan kekhawatiran terhadap fiskal,” ujarnya.
Dari sisi sektor riil, Josua memperkirakan kontraksi PMI manufaktur dan pelemahan rupiah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi semester II-2026 melalui kenaikan biaya produksi, gangguan pasokan, hingga pelemahan daya beli masyarakat.
Menurut dia, tekanan paling besar berpotensi dirasakan emiten manufaktur, otomotif, ritel barang tahan lama, transportasi, serta perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor dan memiliki utang valas.
Sebaliknya, emiten berbasis komoditas dan eksportir dengan pendapatan dolar AS dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
Josua menilai penurunan cadangan devisa sejauh ini masih tergolong normal karena digunakan untuk stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Namun, pasar mulai mencermati kecepatan penurunan cadangan devisa di tengah penguatan dolar AS dan arus keluar modal asing.
“Yang perlu dipantau bukan hanya level cadangan devisa, tetapi juga kecepatannya menurun. Jika cadangan devisa terus turun beberapa bulan berturut-turut sementara rupiah tetap melemah dan arus modal belum pulih, pasar akan mulai membaca bahwa biaya stabilisasi semakin mahal,” katanya.
Secara keseluruhan, Josua menilai risiko terbesar Indonesia saat ini lebih mengarah pada perlambatan pertumbuhan dan penurunan kualitas pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, risiko terhadap stabilitas makroekonomi dan fiskal tetap perlu diwaspadai apabila tekanan terhadap rupiah, harga minyak, dan pasar keuangan terus berlanjut.
“Pasar belum menilai Indonesia sedang krisis, tetapi sedang menguji apakah pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas sambil mempertahankan pertumbuhan,” tutup Josua.











