BeritaInternasional

Jepang Perkuat Vietnam Demi Rantai Pasok Regional

Avatar photo
4
×

Jepang Perkuat Vietnam Demi Rantai Pasok Regional

Sebarkan artikel ini
Jepang Perkuat Vietnam Demi Rantai Pasok Regional


PRESSCORNER.ID – HANOI. Jepang mempertegas langkah memperluas pengaruh ekonominya di Asia Tenggara lewat penguatan kerja sama strategis dengan Vietnam. Dalam pertemuan di Hanoi pada 2 Mei, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menempatkan energi, mineral kritis, semikonduktor, hingga kecerdasan buatan sebagai agenda utama hubungan bilateral kedua negara.

Langkah ini menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik global kini makin menentukan arah kebijakan ekonomi kawasan. Konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan gangguan distribusi energi telah mendorong negara-negara Asia mencari jalur pasok baru yang lebih aman.

“Kedua pihak menetapkan keamanan ekonomi sebagai bidang prioritas baru dalam kerja sama bilateral,” ujar Takaichi usai bertemu mitranya, Le Minh Hung dalam laporan Reuters (2/5).

Bagi Vietnam, dukungan Jepang menjadi penting. Negara ini tengah membutuhkan kepastian pasokan minyak mentah untuk menopang aktivitas industri dan menjaga stabilitas harga energi domestik. Jepang pun menjanjikan bantuan pengaturan suplai minyak mentah bagi Kilang dan Kompleks Petrokimia Nghi Son melalui skema Power Asia Initiative senilai US$ 10 miliar.

Dalam konteks ekonomi makro, kerja sama ini mencerminkan pergeseran fokus negara-negara Asia dari efisiensi biaya menuju ketahanan rantai pasok. Setelah pandemi, perang Rusia-Ukraina, dan kini konflik Timur Tengah, isu keamanan pasokan energi menjadi faktor utama pertumbuhan.

Takaichi menegaskan Jepang dan ASEAN perlu memperkuat rantai pasok regional demi menjaga ketersediaan produk energi yang vital bagi ekonomi.

Tak hanya energi, Jepang juga mendorong kerja sama mineral kritis. Ini terkait kebutuhan Tokyo mengurangi ketergantungan pada China untuk pasokan rare earth, bahan baku penting industri baterai, elektronik, dan teknologi tinggi.

Vietnam dinilai memiliki posisi strategis karena menyimpan cadangan tanah jarang dan galium yang besar. Namun, negara itu masih menghadapi hambatan teknologi pengolahan serta dominasi China dalam industri pemurnian mineral.

Bagi Jepang, mempererat hubungan dengan Vietnam berarti membuka sumber bahan baku baru sekaligus memperluas basis manufaktur di luar China. Apalagi Vietnam semakin menonjol sebagai pusat produksi global untuk berbagai barang elektronik konsumen.

Meski demikian, data terbaru menunjukkan investasi baru Jepang ke Vietnam turun 75% secara tahunan menjadi US$ 233 juta pada kuartal I-2026. Penurunan ini mengindikasikan pelaku usaha masih berhitung terhadap ketidakpastian global, suku bunga tinggi, serta prospek permintaan ekspor.

Namun secara jangka menengah, minat bisnis Jepang belum surut. Komitmen investasi untuk 2025 justru naik 19,4% menjadi US$ 3,08 miliar, sedangkan perdagangan bilateral meningkat 12,3% menjadi US$ 13,7 miliar.

Artinya, Jepang sedang memainkan strategi ganda: menjaga hubungan dagang sambil menata ulang peta investasi dan pasokan strategis. Vietnam menjadi salah satu simpul penting dari strategi tersebut.