PRESSCORNER.ID – BERLIN. Ancaman kenaikan tarif impor otomotif Amerika Serikat (AS) terhadap Uni Eropa kembali memicu kekhawatiran baru bagi ekonomi Jerman. Jika kebijakan itu benar-benar diterapkan, Jerman diperkirakan bisa kehilangan output ekonomi hingga 15 miliar euro atau sekitar US$ 17,58 miliar.
Reuters (3/5) melaporkan, perkiraan tersebut disampaikan Kiel Institute for the World Economy (IfW), lembaga riset ekonomi asal Jerman, yang menilai sektor otomotif menjadi titik rawan utama bagi ekonomi terbesar di Eropa itu.
Presiden IfW Moritz Schularick mengatakan, dampak kebijakan tersebut tidak bisa dianggap sepele. Bahkan dalam jangka panjang, kerugian output Jerman berpotensi membengkak hingga sekitar 30 miliar euro. “Dampaknya akan sangat besar,” ujarnya kepada Reuters.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor mobil dan truk dari Uni Eropa menjadi 25% mulai pekan depan. Angka itu naik dari tarif sebelumnya sebesar 15% yang sempat disepakati kedua pihak.
Trump menuduh Uni Eropa tidak menjalankan komitmen dalam perjanjian dagang dengan Washington.
Ekonom IfW Julian Hinz menilai, langkah tersebut berisiko menekan ekonomi Jerman yang saat ini masih bergerak lambat. “Pertumbuhan Jerman yang sudah lesu akan terkena pukulan keras,” katanya.
IfW saat ini memperkirakan ekonomi Jerman hanya tumbuh 0,8% sepanjang tahun ini, mencerminkan lemahnya pemulihan setelah tekanan inflasi tinggi dan pelemahan industri manufaktur.
Tak hanya Jerman, negara Eropa lain dengan industri otomotif besar seperti Italia, Slovakia, dan Swedia juga diperkirakan ikut menanggung dampak signifikan.
Di sisi lain, penasihat utama Menteri Keuangan Jerman Jens Suedekum meminta Uni Eropa tidak bereaksi berlebihan.
“Uni Eropa sebaiknya menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut. Trump dikenal cepat mengumumkan ancaman tarif besar, tetapi juga cepat menundanya atau menarik kembali,” ujar Suedekum.
Ia menambahkan, hingga kini belum jelas dasar hukum dari ancaman tarif terbaru tersebut. Menurutnya, langkah Trump terlihat diambil secara impulsif.
Ketidakpastian ini berpotensi menambah tekanan bagi industri otomotif global yang masih berjuang menghadapi lemahnya permintaan dan transisi menuju kendaraan listrik.











