PRESSCORNER.ID – Jepang dan Vietnam sepakat memperdalam kerja sama di sektor energi dan mineral kritis di tengah meningkatnya risiko geopolitik global yang mengganggu rantai pasok.
Melansir Reuters, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan, komitmennya untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Vietnam dalam pertemuan bersama Perdana Menteri Vietnam Le Minh Hung pada Sabtu (2/5/2026).
Kedua negara membahas penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah dibentuk pada 2023, dengan fokus pada sektor energi, mineral kritis, kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, hingga teknologi luar angkasa.
“Terdapat kesepahaman bahwa keamanan ekonomi menjadi prioritas baru dalam kerja sama bilateral,” ujar Takaichi kepada wartawan usai pertemuan.
Di tengah konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan mengganggu rantai pasok global, Vietnam активно mencari dukungan dari Jepang dan mitra lainnya untuk menjaga pasokan energi.
Dalam pidatonya di Vietnam National University, Takaichi menekankan pentingnya koordinasi regional yang lebih erat, khususnya antara Jepang dan negara-negara ASEAN.
“Untuk memastikan pasokan produk energi yang stabil, Jepang dan ASEAN perlu bersama-sama memperkuat rantai pasok kawasan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari inisiatif Power Asia senilai US$ 10 miliar, Jepang akan membantu pengaturan pasokan minyak mentah untuk fasilitas pengolahan Nghi Son Refinery and Petrochemical Complex, yang menjadi salah satu kilang utama di Vietnam.
Kerja sama ini juga sejalan dengan strategi “Free and Open Indo-Pacific” yang sebelumnya diperkenalkan oleh Shinzo Abe, yang kini diperkuat dengan fokus pada keamanan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.
Dari sisi perdagangan dan investasi, Jepang masih menjadi salah satu investor terbesar di Vietnam. Namun, investasi baru Jepang pada kuartal I-2026 tercatat turun 75% secara tahunan menjadi US$ 233 juta.
Meski begitu, komitmen investasi untuk 2025 justru meningkat 19,4% menjadi US$ 3,08 miliar, sementara nilai perdagangan bilateral naik 12,3% menjadi US$ 13,7 miliar.
Dalam konteks rantai pasok global, Jepang juga berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China untuk pasokan mineral tanah jarang.
Untuk itu, Tokyo mendorong penguatan kerja sama dengan Vietnam yang memiliki cadangan besar mineral seperti rare earth dan galium, meski masih menghadapi kendala teknologi dalam pengolahan.
Takaichi menegaskan, kedua negara telah sepakat memperkuat koordinasi dalam pengembangan mineral kritis guna memastikan pasokan yang stabil dan memperkuat rantai pasok global.
“Jepang, ASEAN, dan kawasan Indo-Pasifik dapat menjadi lebih tangguh dan sejahtera jika bekerja bersama,” ujarnya.











