PRESSCORNER.ID – MOSKOW. Rusia berencana tetap menjadi anggota OPEC+. Pernyataan ini diungkapkan usai Uni Emirat Arab memutuskan untuk keluar.
Reuters melaporkan, mengutip pernyataan resmi pihak Kremlin, Rabu (29/4/2026), Rusia berharap aliansi produsen minyak akan terus beroperasi di tengah gejolak di pasar energi global.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, OPEC+ tetap menjadi organisasi penting, terutama selama gejolak saat ini di pasar global.
“Kelompok ini membantu secara substansial, katakanlah, meminimalkan fluktuasi di pasar energi dan memungkinkan untuk menstabilkan pasar tersebut,” kata Peskov dalam konferensi pers harian dengan wartawan, Rabu (29/4/2026).
Peskov mengatakan, Rusia menghormati keputusan UEA untuk keluar. Ia juga berharap dialog energi Moskow dengan negara Teluk tersebut akan berlanjut.
Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan, keputusan UEA dapat menyebabkan negara-negara produsen minyak meningkatkan produksi. Ini bisa menurunkan harga global di masa mendatang.
“Jika negara-negara OPEC menjalankan kebijakan mereka secara tidak terkoordinasi setelah keluarnya UEA dan memproduksi minyak sebanyak yang dimungkinkan kapasitas produksi mereka dan sebanyak yang mereka inginkan, harga akan turun sesuai,” kata Siluanov.
Untuk saat ini, harga minyak masih ditopang oleh blokade Selat Hormuz. Kelebihan pasokan akan menjadi risiko setelah selat dibuka kembali.
Rusia bergabung dengan OPEC+ pada 2016. Menurut perkiraan International Energy Agency (IEA), OPEC+ memproduksi hampir setengah pasokan minyak dan cairan minyak dunia tahun lalu.
UEA mengatakan, Selasa (28/4/2026), negara ini akan keluar dari OPEC. Langkah ini menjadi pukulan bagi kelompok tersebut, di tengah krisis energi yang dipicu oleh perang Iran.
UEA adalah produsen terbesar keempat di OPEC+. Sementara Rusia berada di urutan kedua, di belakang Arab Saudi.











