Gaya Hidup

Usia 40+ Dorong Pasar Lensa Progresif, Edukasi Jadi Kunci

Avatar photo
11
×

Usia 40+ Dorong Pasar Lensa Progresif, Edukasi Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini
Usia 40+ Dorong Pasar Lensa Progresif, Edukasi Jadi Kunci


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Industri lensa progresif mencatat peningkatan permintaan seiring bertambahnya populasi usia produktif yang memasuki fase presbiopia. Meski demikian, tantangan adaptasi pengguna masih menjadi pekerjaan rumah di pasar.

Memasuki usia 40 tahun ke atas, banyak masyarakat mengalami presbiopia, yakni penurunan kemampuan melihat jarak dekat.

Kondisi ini mendorong kebutuhan akan kacamata progresif yang mampu mengakomodasi penglihatan jarak jauh, menengah, hingga dekat dalam satu lensa.


Dokter spesialis mata Amanda Nur Shinta Pertiwi menilai, adopsi lensa progresif belum sepenuhnya optimal. Salah satu kendala utama adalah ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna.


“Banyak pasien datang dengan keluhan tidak nyaman saat menggunakan kacamata progresif. Padahal secara klinis, kenyamanan ditentukan oleh pengukuran yang tepat, kualitas dan desain lensa, serta kesesuaian dengan kebutuhan visual sehari-hari,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4).


Ia menjelaskan, dengan pemeriksaan yang akurat dan pemilihan lensa yang sesuai aktivitas, proses adaptasi umumnya dapat berlangsung lebih cepat dan nyaman.


Karena itu, konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah penting sebelum memilih kacamata progresif.


Sejumlah pengguna masih mengeluhkan pusing atau kesulitan beradaptasi. Dalam banyak kasus, hal ini dipicu oleh desain lensa yang kurang presisi serta pengukuran yang tidak sesuai.


Tidak semua lensa progresif memiliki kualitas yang sama. Lensa dengan desain kurang optimal cenderung memiliki area pandang sempit dan transisi antar jarak yang tidak halus, sehingga pengguna harus menyesuaikan posisi kepala saat beraktivitas.


Sebaliknya, teknologi yang lebih canggih mampu menghadirkan area pandang lebih luas dengan transisi yang lebih natural.


Kebutuhan pengguna juga sangat bergantung pada aktivitas. Pekerja yang banyak berinteraksi dengan layar digital membutuhkan area penglihatan dekat dan menengah yang lebih luas, sementara aktivitas luar ruang memerlukan distribusi fokus berbeda.


Karena itu, pemilihan lensa tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga gaya hidup.


Dari sisi industri, kompleksitas desain menjadi salah satu faktor yang membuat harga lensa progresif lebih tinggi dibandingkan lensa single vision.


Teknologi ini menggabungkan beberapa zona penglihatan dalam satu lensa sehingga membutuhkan tingkat presisi yang lebih tinggi.


Produsen global seperti HOYA Vision Care terus mendorong inovasi melalui pendekatan personalisasi.


Teknologi ini memungkinkan lensa disesuaikan dengan kebutuhan visual dan kebiasaan pengguna, sehingga meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan jangka panjang.


Selain desain, kualitas lapisan (coating) juga menjadi faktor penting. Lapisan yang baik dapat mengurangi pantulan cahaya, meningkatkan kejernihan, serta menjaga daya tahan lensa.


Pelaku industri menilai edukasi konsumen menjadi kunci untuk mengurangi kesalahan persepsi terhadap lensa progresif. Konsultasi dengan tenaga profesional di klinik mata maupun optik dinilai penting agar pengguna mendapatkan produk yang sesuai.


Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai desain, teknologi, dan kebutuhan visual, penggunaan kacamata progresif dinilai dapat menjadi solusi optimal sekaligus mendorong pertumbuhan industri optik ke depan.