Eko Setiadi | Co-founder Centre for Energy and Innovation Technology Studies (CENITS)
PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Konfrontasi militer regional antara Israel dan Iran telah berubah menjadi guncangan struktural berskala global. Selat Hormuz — urat nadi energi dunia yang setiap harinya mengalirkan seperempat hingga sepertiga minyak mentah dunia, serta seperlima pasokan LNG global — kini makin tidak menentu. Harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 50% sejak akhir Februari, mendekati US$ 110 per barel. IMF menyebut disrupsi Hormuz sebagai dislokasi terbesar dalam sejarah pasar minyak.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menekankan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai tuntutan utama Washington dalam komunikasi dengan Iran. Seruan itu menunjukkan sinyal bahwa Amerika Serikat menyadari satu-satunya cara mengakhiri perang dengan penyelesaian secara diplomatis. Kecenderungan perubahan arah kebijakan AS ini semakin terlihat dengan persetujuan Trump terhadap kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan, antara AS dan Iran, dengan mediasi Pakistan (8/4).
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan












