Internasional

Korsel Siapkan Langkah Darurat Hadapi Dampak Ketegangan di Selat Hormuz

Avatar photo
12
×

Korsel Siapkan Langkah Darurat Hadapi Dampak Ketegangan di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Korsel Siapkan Langkah Darurat Hadapi Dampak Ketegangan di Selat Hormuz


PRESSCORNER.ID – SEOUL. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz membuat prospek dampak perang Iran sulit diprediksi secara optimistis. Ia menilai harga minyak yang tinggi serta gangguan rantai pasok kemungkinan akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Dalam rapat kabinet pada Selasa, Lee menyatakan pemerintah perlu mengantisipasi gangguan berkepanjangan di pasar energi dan bahan baku global, serta memperkuat sistem respons darurat.

“Untuk sementara waktu, kesulitan dalam rantai pasok energi dan bahan baku global serta tingginya harga minyak akan terus berlanjut,” ujar Lee.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan rantai pasok alternatif, restrukturisasi industri jangka menengah hingga panjang, serta percepatan transisi menuju ekonomi pasca-plastik sebagai proyek strategis nasional prioritas.

Selain itu, Lee meminta kementerian terkait segera merealisasikan anggaran tambahan yang telah disahkan sebagai respons terhadap perang tersebut.

Dalam rapat tersebut, para menteri memaparkan langkah-langkah untuk meredam dampak ekonomi konflik, termasuk dukungan impor minyak mentah, pengawasan terhadap penimbunan bahan baku petrokimia dan pasokan medis, serta perluasan bantuan keuangan bagi perusahaan terdampak.

Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan menyebut gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz masih memengaruhi pasokan. Bahkan jika jalur tersebut kembali normal, pengiriman kargo dari Timur Tengah ke Korea Selatan diperkirakan memerlukan waktu sekitar 20 hari.

Pemerintah juga memprioritaskan kelancaran perjalanan tujuh kapal tanker minyak tujuan Korea Selatan yang saat ini tertahan di kawasan Teluk.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Cho Hyun menyampaikan pihaknya telah mengirim pejabat ke Republik Kongo, Aljazair, dan Libya guna mengamankan pasokan energi. Kepala Staf Presiden Kang Hoon-sik juga diketahui melakukan perjalanan ke sejumlah negara, termasuk Kazakhstan, sejak pekan lalu.

Lee turut menyerukan agar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik mengambil langkah berani menuju perdamaian, dengan berlandaskan pada prinsip perlindungan hak asasi manusia universal serta pelajaran dari sejarah.

Di sisi lain, Kementerian Energi Korea Selatan mengumumkan akan mulai menerapkan sistem tarif listrik musiman dan berbasis waktu penggunaan yang telah direvisi. Kebijakan ini bertujuan mengalihkan konsumsi listrik dari jam puncak malam ke siang hari, saat produksi energi surya lebih tinggi. Tarif baru bagi pengguna industri besar akan mulai berlaku pada 16 April, sementara diskon akhir pekan untuk pengisian kendaraan listrik akan dimulai pada 18 April.