Presscorner.id – Kabar mengenai jebolnya sistem pertahanan udara tercanggih Amerika Serikat, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), di pangkalan militer Yordania menggemparkan jagat maya. Fokus utama tertuju pada unit Radar AN/TPY-2, komponen vital yang harganya ditaksir mencapai USD 300 juta hingga USD 500 juta (sekitar Rp4,7 triliun hingga Rp7,8 triliun).
Meskipun otoritas resmi belum merilis pernyataan detail, isu ini memicu diskusi hangat di kalangan pakar militer: Bagaimana mungkin teknologi seharga triliunan Rupiah yang dianggap “kebal” bisa tertembus?
“Mata Dewa” yang Memiliki Titik Buta
Radar AN/TPY-2 dikenal sebagai “Mata Dewa” karena kemampuannya mendeteksi rudal balistik dari jarak ribuan kilometer. Namun, rahasia di balik potensi jebolnya sistem ini terletak pada karakteristik teknisnya sendiri.
THAAD dirancang khusus untuk mencegat ancaman di ketinggian ekstrem (high altitude). Hal ini membuat radar utamanya seringkali memiliki titik buta terhadap ancaman yang terbang rendah, seperti:
-
Drone Kamikaze (Suicide Drones): Ukurannya kecil, terbang rendah, dan seringkali tidak terdeteksi oleh radar yang fokus pada target balistik.
-
Rudal Jelajah (Cruise Missiles): Mengikuti kontur bumi untuk menghindari radar pelacak jarak jauh.
Strategi “Swarming”: Kuantitas Melawan Kualitas
Rahasia kedua terletak pada strategi serangan “Swarming” atau kerumunan. Dalam skenario konflik modern, penyerang tidak hanya mengirim satu rudal, melainkan puluhan drone murah secara bersamaan.
Strategi ini bertujuan untuk “membutakan” sistem pertahanan. Saat radar THAAD mencoba memproses puluhan target kecil yang membingungkan sensor, celah waktu tersebut digunakan untuk meluncurkan serangan presisi ke arah unit radar utama. Kehilangan satu radar berarti melumpuhkan seluruh baterai THAAD, menjadikannya tumpukan besi tua yang tidak berfungsi.
Dampak Kelangkaan Aset Strategis
Jika klaim kehancuran radar ini benar adanya, ini menjadi pukulan telak bagi Pentagon. Amerika Serikat hanya mengoperasikan sekitar 8 baterai THAAD di seluruh dunia. Mengganti satu unit radar bukan perkara mudah; proses produksinya sangat rumit, memakan biaya besar, dan memerlukan waktu bertahun-tahun.
Kehancuran satu unit di Yordania secara otomatis menciptakan “lubang” besar dalam peta pertahanan udara sekutu di Timur Tengah, memicu beban berlebih pada sistem lain seperti Patriot.
Pelajaran bagi Pertahanan Modern
Insiden atau klaim yang beredar di Yordania ini menjadi pengingat penting: di era perang asimetris, teknologi triliunan Rupiah tidak selalu menjamin keamanan mutlak jika tidak didukung oleh lapisan pertahanan jarak pendek yang solid.
Dunia kini menanti klarifikasi lebih lanjut, sementara para pengamat militer terus membedah rekaman dan data intelijen untuk memastikan apakah “Mata Dewa” AS benar-benar telah buta di tanah Yordania.











