Presscorner.id — Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis baru setelah laporan intelijen dan citra satelit mengonfirmasi kehancuran komponen vital sistem pertahanan udara Amerika Serikat, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), di Yordania awal Maret 2026 ini.
Laporan yang dihimpun dari berbagai sumber media internasional, termasuk Bloomberg dan CNN, menyebutkan bahwa serangan tersebut berhasil menghantam unit Radar AN/TPY-2 yang ditempatkan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti. Radar ini merupakan “jantung” dari sistem THAAD yang berfungsi mendeteksi dan melacak rudal balistik jarak jauh.
Kerugian Fantastis Mencapai Triliunan Rupiah
Kehancuran radar ini bukan sekadar kekalahan taktis, tetapi juga kerugian finansial yang masif bagi militer Amerika Serikat. Satu unit radar AN/TPY-2 diestimasi memiliki nilai antara USD 300 juta hingga USD 500 juta, atau setara dengan Rp4,7 triliun hingga Rp7,8 triliun.
Para analis militer menyebutkan bahwa nilai kerugian tersebut baru mencakup unit radarnya saja, belum termasuk kerusakan pada fasilitas komunikasi satelit dan infrastruktur pendukung di sekitar lokasi ledakan.
Analisis Citra Satelit: Pertahanan yang Tertembus
Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, terlihat dua kawah besar di titik koordinat radar tersebut disiagakan. Hal ini mengindikasikan bahwa proyektil—yang diduga kuat merupakan kombinasi drone suicide dan rudal balistik presisi—berhasil menembus lapisan pertahanan udara yang selama ini dianggap sangat rapat.
“Ini adalah kehilangan aset strategis yang sangat langka. AS hanya mengoperasikan delapan baterai THAAD secara global, dan proses produksinya memakan waktu bertahun-tahun,” ujar seorang pakar pertahanan regional dalam laporannya.
Dampak Strategis di Kawasan
Kehancuran radar THAAD di Yordania menciptakan “lubang” dalam payung pertahanan udara sekutu di Timur Tengah. Tanpa radar ini, kemampuan deteksi dini terhadap ancaman rudal balistik di wilayah tersebut menjadi lumpuh, sehingga beban pertahanan kini beralih sepenuhnya ke sistem Patriot yang memiliki jangkauan lebih terbatas.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pentagon belum memberikan pernyataan resmi detail mengenai langkah balasan, namun eskalasi militer di kawasan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan klaim keberhasilan serangan dari pihak lawan.











