Presscorner.id — Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik didih baru. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan provokatif yang menegaskan kesiapan tempur mereka di Selat Hormuz. Pernyataan “Kami menunggu pasukan AS” bukan sekadar gertakan sambal, melainkan pesan strategis di tengah laporan rontoknya sejumlah aset pertahanan udara Amerika Serikat di wilayah regional.
Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia, kembali menjadi panggung “kucing-kucingan” militer paling berbahaya di dunia. Komandan Angkatan Laut IRGC, Laksamana Muda Alireza Tangsiri, dalam pidatonya baru-baru ini menyatakan bahwa seluruh pergerakan kapal induk dan gugus tugas angkatan laut AS (US Navy) kini berada dalam pengawasan radar presisi dan jangkauan rudal pesisir Iran.
“Kami tidak hanya mengamati; kami menunggu. Setiap inci pergerakan pasukan asing di perairan ini adalah target potensial jika kedaulatan kami diganggu,” tegas pihak IRGC melalui kantor berita Tasnim.
Pernyataan ini mengguncang pasar energi global bukan tanpa alasan. Selat Hormuz adalah jalur bagi hampir 20% konsumsi minyak dunia.
- Lebar Jalur: Titik tersempit selat ini hanya sekitar 33 kilometer.
- Senjata Iran: IRGC dilaporkan telah menyiagakan ribuan drone kamikaze
- Shahed, rudal anti-kapal Khalij Fars, dan ranjau laut pintar di sepanjang pesisir.
- Strategi “Area Denial”: Pakar militer menyebut Iran sedang menerapkan strategi untuk membuat biaya operasional militer AS di kawasan tersebut menjadi terlalu mahal dan berisiko tinggi.
Hubungan dengan Insiden THAAD di Yordania
Analis geopolitik melihat adanya pola terintegrasi dalam pergerakan Iran bulan ini. Serangan yang dilaporkan melumpuhkan Radar THAAD senilai Rp5 triliun di Yordania dianggap sebagai langkah pembuka untuk “membutakan” pertahanan AS, sebelum Iran meningkatkan tekanan di wilayah perairan.
“Jika radar pertahanan udara di daratan lumpuh, kapal-kapal perang AS di laut akan kehilangan payung pelindung jarak jauh. Inilah saat di mana ancaman di Selat Hormuz menjadi berkali-kali lipat lebih berbahaya bagi Pentagon,” ujar pengamat pertahanan internasional.
Dunia kini memantau dengan cemas. Jika Selat Hormuz ditutup atau terjadi kontak senjata sekecil apa pun, harga minyak mentah dunia diprediksi bisa menembus angka USD 120 – 150 per barel dalam hitungan hari. Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, hal ini tentu akan berdampak langsung pada subsidi BBM dan inflasi nasional.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih menyatakan tetap berkomitmen menjaga kebebasan navigasi di jalur internasional. Namun, kehadiran armada tambahan di Teluk menunjukkan bahwa AS menanggapi ancaman IRGC ini dengan sangat serius.









