Presscorner.id — Efektivitas serangan militer udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belakangan ini menuai kritik tajam dari para pengamat pertahanan. Meski secara teknis serangan tersebut berhasil menghancurkan sebagian besar target militer, secara strategis langkah ini dinilai gagal melemahkan posisi politik Teheran.
Dalam diskusi di program Bola Liar Kompas TV, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati memaparkan analisisnya mengenai ketimpangan antara hasil di lapangan dengan tujuan akhir perang. Ia menyoroti bahwa kehancuran fisik tidak selalu berbanding lurus dengan runtuhnya kekuasaan.
“Begitu kita menoleh ke strategic outcome-nya, apakah itu tercapai? Rezim (Iran) tetap kokoh, tidak ada gejolak demonstrasi besar di dalam negeri, dan serangan rudal mereka justru tetap intens menghujani lawan,” ujar Agung.
Menurutnya, efektivitas serangan yang mencapai angka 90 persen terhadap gedung dan infrastruktur militer menjadi tidak berarti jika musuh masih memiliki kemampuan untuk membalas secara asimetris. Ia menilai strategi Donald Trump untuk menumbangkan rezim Iran melalui tekanan militer sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.
Lebih lanjut, Agung menekankan bahwa Iran kini memegang kartu as ekonomi dunia lewat kendali atas Selat Hormuz. Jalur logistik energi global ini menjadi senjata diplomatik yang jauh lebih mematikan daripada ledakan bom di medan tempur.
“Jika perang ini berlarut, yang akan panik bukan hanya Amerika, tapi seluruh sekutunya yang bergantung pada aliran energi dari sana,” pungkasnya.











