Presscorner.id — Kekuatan Iran dalam menghadapi tekanan militer Amerika Serikat (AS) dan sekutunya ternyata tidak hanya bersandar pada kekuatan senjata. Mantan Gubernur Lemhannas, Andi Widjajanto, menilai ada faktor peradaban dan geografi yang membuat Teheran sulit ditundukkan.
Dalam diskusi mendalam di program Bola Liar Kompas TV, Andi mengungkapkan bahwa struktur topografi Iran sangat berbeda dengan Irak. Wilayah Iran yang didominasi pegunungan tinggi berfungsi sebagai benteng alam yang mustahil ditembus dengan operasi darat kilat seperti Desert Storm di masa lalu.
“Iran itu peradaban ribuan tahun. Budaya strategisnya sangat kuat dan lama,” ujar Andi. Ia menambahkan bahwa warisan pemikiran strategis sejak era Persia kuno—zaman Darius hingga Xerxes—masih mendarah daging dalam cara Iran mengelola konflik saat ini.
Strategi Mengulur Waktu
Menurut Andi, dalam menghadapi kekuatan besar seperti AS, Iran secara cerdik menerapkan prinsip perang asimetris. Kunci utama dari strategi ini bukanlah menghancurkan lawan secara total, melainkan bertahan hidup (survive).
“Pihak yang lebih lemah hanya perlu memastikan mereka tidak tumpas total. Dengan terus bertahan, mereka berhasil membangun persepsi kemenangan di mata dunia,” jelasnya.
Ancaman Krisis Global
Namun, Andi memberikan peringatan serius jika konflik ini terus berlarut. Berdasarkan pemodelan matematis, jika perang mencapai durasi 60 hingga 70 hari, dampaknya tidak lagi hanya dirasakan oleh pihak yang bertikai.
Kepanikan diprediksi akan melanda negara-negara tetangga dan mitra dagang besar seperti Arab Saudi, Cina, hingga Korea Selatan. Hal ini dipicu oleh potensi terhentinya pasokan gas alam cair (LNG) akibat gangguan keamanan di jalur laut strategis.
“Waktu adalah teman bagi Iran. Justru pihak Barat yang akan terdesak untuk segera masuk ke meja perundingan karena tekanan ekonomi global,” pungkas Andi.











