BeritaBisnis

Soal Potensi Kenaikan Suku Bunga, BI Fokus Jaga Stabilitas

Avatar photo
1
×

Soal Potensi Kenaikan Suku Bunga, BI Fokus Jaga Stabilitas

Sebarkan artikel ini
Soal Potensi Kenaikan Suku Bunga, BI Fokus Jaga Stabilitas


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) membuka peluang penyesuaian suku bunga acuan atau BI-rate ke depan dengan mempertimbangkan perkembangan data ekonomi, terutama stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, arah kebijakan suku bunga ke depan akan ditentukan berdasarkan perkembangan data. BI akan terus mencermati kondisi perekonomian sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.

“Jadi terkait dengan stance BI suku bunga ke depan tentu kita akan lihat nanti data dependent. Kita lihat bagaimana perkembangannya ke depan,” ujar Destry, dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026).

Menurut Destry, stabilitas tetap menjadi prioritas utama BI, khususnya dalam menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah. Namun, BI juga melihat adanya momentum pertumbuhan ekonomi yang perlu terus didorong melalui bauran kebijakan yang dimiliki.

Dalam hal ini, BI akan mengarahkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran untuk lebih mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan moneter tetap difokuskan pada upaya menjaga stabilitas.

“Stabilitas itu tentunya yang utama. Kemudian yang kedua kita lihat juga di sini ada momentum pertumbuhan sehingga ini juga tentu harus bisa kita dorong juga,” katanya.

Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman menambahkan, setiap respons kebijakan bank sentral selalu mengedepankan stabilitas. Dalam menentukan langkah kebijakan, BI mempertimbangkan deviasi inflasi terhadap sasaran serta kesenjangan antara output aktual dan potensial (output gap).

Kedua indikator tersebut menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter, termasuk ketika menghadapi tekanan pasar keuangan maupun berbagai peristiwa yang memengaruhi perekonomian.

Aida menjelaskan, respons kebijakan yang diambil tidak selalu harus melalui penyesuaian suku bunga acuan. BI juga dapat mengoptimalkan instrumen lain, seperti pemberian insentif atau penggunaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“Selalu melihat bagaimana antara deviasi dari inflasi dari targetnya dan kemudian juga deviasi dari output gap. Itu yang selalu kami lihat,” ujar Aida.

Ia mengatakan, perkembangan di pasar keuangan, termasuk persoalan terkait MSCI, akan terus dievaluasi untuk menentukan respons kebijakan yang paling sesuai dengan kondisi perekonomian.

Untuk diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Oktober 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%, serta menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi sebesar 5,00%.

Keputusan tersebut diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

Kebijakan moneter ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat dan upaya menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027.