PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas usaha, memperkuat daya saing industri, dan menarik investasi.
Langkah ini menjadi penting di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai nilai transaksi bruto US$ 99 miliar pada 2025.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, Indonesia memiliki pasar digital yang besar.
Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan inovasi teknologi, peningkatan kompetensi talenta lokal, pemerataan konektivitas, serta regulasi yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
“Tugas utama kita tidak lagi hanya membangun konektivitas Indonesia, tetapi juga memastikan konektivitas itu diterjemahkan menjadi pertumbuhan, baik ekonomi, masyarakatnya, maupun perbaikan layanan publik,” ujar Meutya dalam keterangannya Bali Tech Week (BTW) 2026, Senin (19/10/2026).
Laporan e-Conomy SEA 2025 memperkirakan nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 99 miliar pada 2025, tumbuh 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai tersebut setara sekitar Rp 1.783 triliun dengan asumsi kurs Rp 18.030 per dolar AS.
Potensi pasar tersebut menjadi salah satu pendorong pengembangan infrastruktur dan ekosistem digital, termasuk konektivitas, kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber, serta pengembangan perusahaan rintisan atau startup.
Pembahasan mengenai peluang tersebut menjadi bagian dari BTW 2026 yang berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali.
Acara ini menghadirkan 13 agenda teknologi yang mempertemukan pemerintah dan pelaku industri untuk membahas pengembangan bisnis digital serta peluang investasi.
Di sisi pengembangan ekosistem usaha, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga menyoroti program Garuda Spark.
Program tersebut telah menjalankan 178 program yang menjangkau lebih dari 15.700 talenta digital, membina 80 startup, serta melibatkan 80 mitra. Investasi langsung yang tercatat dalam ekosistem tersebut mencapai lebih dari Rp 429,5 miliar.
Meski demikian, potensi ekonomi digital masih bergantung pada pemerataan akses internet. Meutya menyebut sekitar 235 juta penduduk Indonesia telah menggunakan internet pada 2026, dengan tingkat penetrasi mencapai 81,72%. Sementara itu, jaringan 4G telah menjangkau 98,96% populasi.
Menurut Meutya, pemerintah masih perlu memperluas akses konektivitas agar manfaat ekonomi digital tidak terkonsentrasi di wilayah tertentu.
“Kita masih punya pekerjaan rumah. Karena prinsip no one left behind, inklusivitas mengharuskan kita mencapai 100%. Kecepatan internet tidak boleh hanya dirasakan saudara-saudara kita di Pulau Jawa, tetapi sampai ke Indonesia bagian timur,” ujarnya.
Selain pemerataan infrastruktur, pemerintah menempatkan keamanan data pribadi, pelindungan anak di ruang digital, literasi digital, dan tata kelola AI sebagai bagian dari pengembangan ekosistem digital. Kepastian regulasi dan keamanan layanan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis berbasis teknologi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya teknologi dalam mendukung hilirisasi dan penguatan industri nasional.
Menurut Bahlil, penerapan teknologi perlu berjalan beriringan dengan industrialisasi agar kegiatan produksi semakin efisien dan kompetitif.
Integrasi teknologi digital dengan industri besar juga dinilai membuka peluang peningkatan produktivitas dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
“Hilirisasi energi bisa kita lakukan secara maksimal kalau disertai teknologi yang baik dan industrialisasi yang andal, kompetitif, dan efisien. Teknologi itu bagian dari industri digital yang bisa kita hubungkan langsung dengan industri-industri besar,” ujar Bahlil.
Melalui BTW 2026, pemerintah berharap kolaborasi dengan pelaku industri dapat memperkuat ekosistem digital sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Tantangannya adalah memastikan besarnya pasar digital Indonesia dapat diterjemahkan menjadi investasi produktif, peningkatan kapasitas industri, dan pemerataan manfaat ekonomi di berbagai wilayah.











