BeritaBisnis

Genjot Pertumbuhan Ekonomi, DEN Soroti Peran Swasta, Deregulasi hingga Hilirisasi

Avatar photo
6
×

Genjot Pertumbuhan Ekonomi, DEN Soroti Peran Swasta, Deregulasi hingga Hilirisasi

Sebarkan artikel ini
Genjot Pertumbuhan Ekonomi, DEN Soroti Peran Swasta, Deregulasi hingga Hilirisasi


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyebut peningkatan peran sektor swasta menjadi kunci untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027 mendatang. 

Untuk mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi, pemerintah perlu mempercepat deregulasi, memperkuat kepastian hukum, serta mendorong industrialisasi dan digitalisasi.

Anggota DEN sekaligus Direktur Eksekutif Bidang Percepatan Program Prioritas Ekonomi Mochammad Firman Hidayat mengatakan, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi 6%–7% untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. 

Namun, target tersebut menghadapi tantangan berupa perlambatan ekonomi global, penurunan arus investasi dunia, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan harga energi.

“Artinya, mau enggak mau kita harus melakukan reformasi,” ujar Firman dalam acara Outlook 2027: Winning the Next Growth Cycle di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Menurut Firman, kontribusi sektor swasta terhadap produk domestik bruto (PDB) dan investasi mencapai sekitar 88%. Karena itu, pemerintah perlu menciptakan iklim usaha yang mampu meningkatkan kepercayaan investor agar sektor swasta lebih aktif menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu langkah yang disoroti adalah deregulasi. Firman mencontohkan pengalaman Indonesia pada era 1980-an, ketika penyederhanaan perizinan dan pembukaan investasi yang lebih luas turut mendukung pertumbuhan ekonomi tinggi. Upaya serupa dinilai perlu diperkuat untuk mendorong investasi dan aktivitas industri saat ini.

Kepastian Hukum

Selain penyederhanaan aturan, kepastian hukum menjadi faktor penting dalam keputusan investasi. DEN, kata Firman, tengah mendorong perbaikan ketentuan hukum, termasuk terkait definisi kerugian negara dan penerapan business judgment rule. 

Langkah tersebut diharapkan memberikan kepastian bagi badan usaha milik negara (BUMN) maupun sektor swasta dalam mengambil keputusan bisnis, berinovasi, dan berinvestasi.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Ikatan Alumni Prasetiya Mulya (IKA Prasmul) sekaligus President CEO Club Edy Sutrisman. Menurut Edy, konsistensi regulasi menjadi salah satu pertimbangan investor ketika menentukan penanaman modal di Indonesia.

“Regulasi yang tidak berubah-ubah itu menjadi sesuatu yang menjadi daya tarik investor ketika ingin memasukkan investasinya ke Indonesia,” ujar Edy dalam forum yang sama.

Ia menilai, daya tarik investasi tidak hanya bergantung pada besarnya pasar dan peluang pertumbuhan, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha memperkirakan risiko. 

Ketidakpastian aturan dapat menyulitkan perusahaan menyusun proyeksi bisnis, termasuk untuk pembangunan fasilitas produksi, ekspansi pasar, dan pengembangan produk.

CEO Prasetiya Mulya Executive Learning Institute (Prasmul-ELI) Citra Junika Siregar menambahkan, kepercayaan pelaku usaha perlu dijaga melalui kebijakan yang memberikan kepastian. Kemampuan perusahaan membaca perubahan global, termasuk dinamika geopolitik dan perkembangan teknologi, juga menjadi bekal untuk menangkap peluang bisnis.

Hilirisasi

Di luar reformasi regulasi, DEN melihat hilirisasi sumber daya alam, pengembangan kawasan industri, dan investasi infrastruktur digital sebagai peluang untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Firman mencontohkan nilai ekspor nikel dan produk turunannya yang meningkat dari sekitar US$ 1,5 miliar menjadi mendekati US$ 40 miliar pada 2025.

Menurut dia, pendekatan hilirisasi juga berpotensi dikembangkan pada komoditas lain, seperti bauksit dan aluminium, untuk memperkuat basis industri nasional. Selain itu, investasi pusat data dan infrastruktur komputasi awan menjadi peluang yang perlu diimbangi dengan kesiapan pasokan listrik serta pengelolaan dampak lingkungan.

DEN juga menyoroti potensi kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus dalam menarik investasi. Firman mencontohkan Batam dan Kendal yang mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi, sehingga model pengembangan kawasan tersebut dapat menjadi salah satu referensi untuk mendorong investasi lebih luas.

Sementara itu, digitalisasi dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan. Adopsi teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), diharapkan dapat mendukung produktivitas dan memperbaiki kualitas pelayanan.

Bagi dunia usaha, kombinasi deregulasi, kepastian hukum, hilirisasi, dan digitalisasi menjadi bagian penting dalam menyiapkan strategi pertumbuhan pada 2027. Firman menegaskan bahwa untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi di tengah kondisi global yang menantang, partisipasi sektor swasta perlu diperkuat melalui iklim investasi yang lebih kondusif.