BeritaBisnis

MotoGP Mandalika Dorong Perputaran Ekonomi hingga Hampir Rp 5 Triliun

Avatar photo
2
×

MotoGP Mandalika Dorong Perputaran Ekonomi hingga Hampir Rp 5 Triliun

Sebarkan artikel ini
MotoGP Mandalika Dorong Perputaran Ekonomi hingga Hampir Rp 5 Triliun


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Penyelenggaraan MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus didorong sebagai katalis pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

Pemerintah bersama Badan Pengelola BUMN, Danantara Indonesia, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, serta MotoGP Sports Entertainment Group memperkuat sinergi untuk menjaga keberlanjutan ajang balap internasional tersebut.

Koordinasi lintas sektor dilakukan pada Rabu (7/10/2026), menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9-11 Oktober 2026.

Pembahasan tidak hanya mencakup keberlanjutan penyelenggaraan MotoGP, tetapi juga optimalisasi dampaknya terhadap perekonomian nasional dan ekosistem pariwisata di NTB.

Deputy CEO MotoGP Sports Entertainment Group Carlos Ezpeleta mengatakan, Indonesia merupakan salah satu pasar penting bagi perkembangan MotoGP di kawasan Asia. Hal ini ditopang oleh besarnya basis penggemar dan tingginya antusiasme masyarakat terhadap ajang tersebut.

“Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi MotoGP. Besarnya antusiasme penggemar, termasuk tingginya penjualan tiket, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis penggemar yang kuat. Kami melihat potensi yang besar untuk terus mengembangkan MotoGP di Indonesia, tidak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga dari sisi ekonomi dan pariwisata,” ujar Carlos dalam keterangannya.

MotoGP Mandalika 2026 menjadi tahun kelima penyelenggaraan ajang tersebut di Indonesia sejak 2022. Jumlah penonton juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2023, jumlah penonton tercatat sebanyak 102.929 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 121.252 orang pada 2024 dan kembali mencetak rekor menjadi 140.324 orang pada 2025.

Pertumbuhan jumlah penonton tersebut turut memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism.

Dengan basis lebih dari 632 juta penggemar MotoGP secara global dan jangkauan siaran hampir 200 negara, penyelenggaraan MotoGP juga menjadi sarana untuk memperkenalkan destinasi wisata, budaya, ekonomi kreatif, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia ke pasar global.

Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan MotoGP di Mandalika diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi hampir Rp5 triliun. Ajang tersebut juga melibatkan hingga 3.000 tenaga kerja lokal serta sekitar 600 UMKM.

Dampak ekonomi tersebut mengalir ke berbagai sektor, mulai dari akomodasi, kuliner, transportasi, perdagangan hingga aktivitas pariwisata lainnya.

Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan, penyelenggaraan MotoGP selama lima tahun terakhir mulai memberikan perubahan terhadap ekosistem pariwisata di NTB.

“Setelah lima tahun, kami melihat MotoGP memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan pariwisata di NTB. Trafik menuju Mandalika terus berkembang, diikuti pertumbuhan hotel, restoran, penerbangan, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Ini menunjukkan bahwa sebuah event internasional dapat menjadi katalis yang mendorong pertumbuhan ekosistem secara lebih luas,” ujar Dony.

Peningkatan aktivitas pariwisata tersebut juga tercermin dari kebutuhan konektivitas menuju NTB menjelang MotoGP 2026. Berdasarkan data InJourney Airports, terdapat 66 penerbangan tambahan di Bandara Internasional Lombok untuk menambah kapasitas kursi angkutan udara selama periode penyelenggaraan MotoGP.

Tambahan penerbangan tersebut terdiri atas 48 penerbangan tambahan, 11 penerbangan sewa atau charter, empat penerbangan dengan penggantian pesawat berukuran lebih besar, serta tiga positioning flight.

Sementara itu, tingkat hunian akomodasi di sekitar Mandalika disebut telah mendekati 100% menjelang pelaksanaan balapan.

Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan penyelenggaraan MotoGP di Mandalika tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan balapan selama tiga hari. Menurut dia, ajang tersebut diarahkan untuk membangun dampak ekonomi dan pariwisata yang berkelanjutan.

“MotoGP Mandalika bukan sekadar tiga hari balapan namun lebih dari itu, yang kita bangun adalah legacy untuk Indonesia dan event ini menjadi katalis untuk mengembangkan destinasi, memperkuat konektivitas, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus membawa Indonesia dan Mandalika ke panggung global,” ujar Maya.

Menurut Maya, keberlanjutan penyelenggaraan MotoGP membutuhkan kolaborasi antara kementerian, lembaga, BUMN, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Selain dampak ekonomi, penyelenggaraan MotoGP juga mulai membangun talenta lokal. Mario Suryo Aji di kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama di kelas Moto3 menjadi representasi pembalap Indonesia di ajang balap dunia.

Di sisi lain, sebanyak 380 marshal asal NTB telah mendapatkan pelatihan sesuai standar Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM).

Sejumlah marshal tersebut bahkan telah memperoleh kesempatan bertugas pada ajang balap internasional di luar negeri, termasuk di Sepang, Malaysia.

Pengembangan kompetensi tersebut menunjukkan bahwa dampak penyelenggaraan MotoGP tidak hanya berlangsung selama balapan, tetapi juga dapat menciptakan peluang bagi tenaga kerja lokal untuk memperoleh pengalaman dan kompetensi berstandar internasional.

“Pada akhirnya ukuran keberhasilan MotoGP bukan hanya siapa yang menjadi juara di lintasan namun keberhasilannya juga harus terlihat dari seberapa besar ekonomi yang tumbuh, seberapa kuat Indonesia dikenal dunia, dan berapa banyak talenta Indonesia yang lahir dari ekosistem yang dibangun. Itulah legacy yang ingin kita jaga bersama,” kata Maya.