ILUSTRASI. Panen kopi (KONTAN/Baihaki)
PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan ekspor komoditas mentah sebagai tumpuan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengingatkan, kekayaan sumber daya alam tidak akan cukup untuk menjaga daya saing Indonesia apabila tidak diikuti teknologi dan pengolahan yang mampu menciptakan nilai tambah.
“Perekonomian yang berbasis komoditas tanpa sentuhan teknologi, tanpa diolah menjadi produk hilir yang bernilai tambah tinggi tidak akan sustain,” ujar Amalia dalam agenda Mata Lokal Fest 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (7/10/2026).
Amalia menyampaikan bagaimana historis posisi sejumlah komoditas Indonesia di pasar global berubah dibandingkan hampir satu abad lalu. Ia mencontohkan karet, gula dan teh yang pada 1927 pernah memiliki kontribusi besar terhadap ekspor dunia.
Pada 1927, Indonesia memasok sekitar 37% ekspor karet dunia. Namun, saat ini pangsa tersebut tinggal sekitar 2,4%. Untuk gula, kontribusi Indonesia yang pada 1927 mencapai sekitar 10% kini hanya sekitar 0,75%. Sementara pangsa ekspor teh turun dari sekitar 16% menjadi hanya 0,67%.
Menurut Amalia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keunggulan berbasis komoditas saja tidak cukup untuk mempertahankan posisi Indonesia dalam perdagangan global.
Persoalannya bukan hanya mengenai seberapa besar produksi komoditas yang dapat dihasilkan, tetapi juga bagaimana komoditas tersebut dapat diolah sehingga memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Amalia menilai Indonesia perlu mendorong proses pengolahan dengan dukungan teknologi agar komoditas yang dihasilkan tidak terbatas hanya sebagai bahan baku, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Dalam paparannya, Amalia juga memberikan sejumlah contoh mengenai besarnya nilai tambah yang dapat diperoleh dari pengolahan komoditas. Kelapa sawit misalnya, dapat diolah menjadi minyak goreng dengan nilai tambah sekitar empat hingga enam kali lipat.
Selain itu, kopi juga memiliki peluang serupa di mana biji kopi yang diolah menjadi kopi bubuk dapat menghasilkan nilai tambah sekitar dua hingga tiga kali lipat. Sementara kelapa dapat diolah menjadi coconut oil dengan nilai tambah sekitar dua hingga lima kali lipat.
Pengolahan kelapa bahkan disebut dapat dikembangkan lebih jauh menjadi produk turunan seperti MCT yang memiliki harga tinggi di pasar global. Artinya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki komoditas.
Menurut Amalia, teknologi dan kemampuan mengolah komoditas menjadi produk bernilai tambah menjadi faktor penting agar Indonesia bisa naik kelas.
Salah satu contoh dari dampak hilirisasi adalah Maluku Utara, yang menjadi provinsi yang mencatat pertumbuhan ekonomi sangat tinggi seiring berkembangnya industri pengolahan berbasis sumber daya alam, terutama nikel.
Data BPS Maluku Utara mencatat ekonomi provinsi tersebut tumbuh 17,43% secara kumulatif pada semester I 2026. Pada saat yang sama, industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi.
Dalam paparannya, Amalia menyebut Maluku Utara sebagai salah satu daerah yang pertumbuhannya sangat tinggi. Perkembangan tersebut berkaitan dengan proses hilirisasi pertambangan, khususnya nikel.
Namun, Amalia mengingatkan bahwa hilirisasi tidak semestinya hanya dipahami dalam konteks pertambangan.
Daerah yang tidak memiliki tambang pun memiliki peluang untuk menciptakan pertumbuhan melalui peningkatan produktivitas, teknologi dan pengolahan komoditas.
Amalia juga menekankan bahwa pengembangan ekonomi di daerah tidak harus bertumpu pada tambang.
Ia mencontohkan Ngawi yang mengembangkan sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi. Daerah tersebut menerapkan pertanian berkelanjutan 2.0, smart farming dan penggunaan drone.
Menurut Amalia, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian juga dapat menjadi sumber pertumbuhan apabila produktivitasnya ditingkatkan dan hasil produksinya dapat memberikan nilai tambah lebih besar.
Contoh lainnya adalah Sidrap Sulawesi Selatan dimana daerah tersebut mengembangkan komoditas porang dan berupaya menarik investor untuk mengembangkan pengolahannya. Di sektor peternakan, teknologi juga digunakan untuk meningkatkan produktivitas.
Dengan demikian, menurutnya daerah tidak harus memiliki sumber daya tambang untuk dapat tumbuh tinggi. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca potensi ekonomi masing-masing daerah dan mengolahnya menjadi aktivitas ekonomi yang lebih produktif.
“Tidak hanya komoditas tambang, komoditas pertanian juga harus kita hilirisasikan,” ujarnya.
Amalia juga memperlihatkan bahwa nilai sebuah komoditas tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya. Teknologi, pengolahan, kemasan hingga merek dapat membuat nilai ekonomi sebuah produk meningkat.
Ia mencontohkan komoditas teh di Singapura yang memiliki merek teh TWG, meskipun negara tersebut tidak memiliki perkebunan teh sebagai sumber bahan baku utama.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa nilai ekonomi dapat tercipta dari berbagai tahapan dalam rantai produksi. Negara atau perusahaan yang menguasai teknologi, pengolahan, merek dan pemasaran dapat memperoleh nilai lebih besar dibandingkan pihak yang hanya menjual bahan baku.
Hal serupa dapat dilihat dari komoditas kopi Indonesia. Indonesia memiliki berbagai kopi unggulan seperti Gayo, Kintamani, Toraja dan Java.
Jumlah kedai kopi di Indonesia juga telah mencapai sekitar 461.991. Sementara pada semester I 2026, ekspor kopi Indonesia tercatat sekitar 208.000 ton dengan nilai sekitar US$ 1 miliar.
Potensi tersebut menunjukkan bahwa kopi Indonesia tak harus diekspor hanya dalam bentuk biji mentah, tetapi bisa ditingkatkan nilai tambahnya melalui pengolahan, pengemasan, branding hingga pemasaran produk siap konsumsi.
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam harus diikuti dengan kemampuan mengolah dan meningkatkan nilai tambah.
“Perekonomian yang berbasis komoditas tanpa sentuhan teknologi, tanpa diolah menjadi produk hilir yang bernilai tambah tinggi tidak akan sustain,” tegas Amalia.
Amalia mengingatkan, tantangan Indonesia ke depan bukan hanya meningkatkan produksi komoditas, tetapi juga mengembangkan teknologi, memperkuat pengolahan dan menciptakan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Dengan hilirisasi, Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai pemasok bahan baku, tetapi mampu mengambil porsi yang lebih besar dalam rantai nilai global.











