BeritaInternasional

Bank Sentral Hungaria Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Lagi Tahun Ini

Avatar photo
1
×

Bank Sentral Hungaria Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Lagi Tahun Ini

Sebarkan artikel ini
Bank Sentral Hungaria Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Lagi Tahun Ini


PRESSCORNER.ID – BUDAPEST. Bank sentral Hungaria masih membuka peluang untuk kembali memangkas suku bunga hingga akhir 2026. Namun, keputusan tersebut akan bergantung pada kondisi pasar eksternal serta keseriusan pemerintah dalam memangkas defisit anggaran sebagai bagian dari upaya negara itu untuk mengadopsi euro.

Wakil Gubernur Bank Nasional Hungaria (NBH) yang membidangi kebijakan moneter, Zoltan Kurali, mengatakan peluang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka apabila perkembangan data ekonomi mendukung.

“Jika data membenarkannya dan langkah tersebut memiliki dasar yang kuat, maka kemungkinan pelonggaran suku bunga tentu saja tetap terbuka,” ujar Kurali kepada Reuters dalam wawancara pada Kamis (24/9/2026).

Pernyataan tersebut muncul setelah NBH mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,5% pada Selasa (22/9/2026). Keputusan itu sekaligus menghentikan sementara rangkaian pemangkasan suku bunga yang telah dilakukan bank sentral tersebut.

NBH juga menurunkan target inflasinya menjadi 2,5% dari sebelumnya 3%. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari persiapan Hungaria untuk memenuhi persyaratan dalam proses adopsi mata uang tunggal Eropa, euro.

Target Adopsi Euro 2032

Kurali mengatakan komitmen pemerintahan Perdana Menteri Peter Magyar untuk memenuhi persyaratan masuk zona euro pada 2030 membuka kemungkinan Hungaria bergabung dengan Exchange Rate Mechanism II (ERM-2) pada awal 2029.

ERM-2 merupakan mekanisme nilai tukar yang harus dilalui negara anggota Uni Eropa sebelum mengadopsi euro.

“Tanggal paling awal untuk mengadopsi euro adalah 1 Januari 2032, jika Hungaria memenuhi kriteria Maastricht pada 2030,” kata Kurali.

Kriteria Maastricht mencakup sejumlah persyaratan ekonomi dan fiskal yang harus dipenuhi suatu negara sebelum bergabung dengan zona euro.

Menurut Kurali, perkembangan pasar energi, anggaran 2027, serta rencana fiskal jangka menengah yang akan diumumkan pemerintah Magyar pada bulan depan akan menjadi faktor penting bagi pembuat kebijakan dalam menentukan ruang pemangkasan suku bunga berikutnya tahun ini.

Bank sentral telah memangkas suku bunga sebanyak empat kali sepanjang tahun ini. Kebijakan tersebut dilakukan ketika inflasi Hungaria masih berada di bawah target.

Inflasi memang mulai meningkat dalam beberapa bulan terakhir, yakni menjadi 1,3% pada Agustus dari 1,2% pada Juli. Namun, ekonom secara umum masih memperkirakan NBH akan melakukan satu kali pemangkasan suku bunga lagi hingga akhir 2026.

Rencana Fiskal Jadi Penentu

Kurali mengatakan kejelasan mengenai kebijakan fiskal pemerintah dapat mengubah persepsi risiko terhadap perekonomian Hungaria.

“Jika terdapat kejelasan di sisi fiskal dan proses adopsi euro dimulai, maka hal ini akan menjadi suatu kepastian dan akan menghasilkan lingkungan risiko yang berbeda dan lebih menguntungkan dibandingkan kondisi saat ini, ketika masuknya Hungaria ke zona euro masih sebatas komitmen,” ujarnya.

Meski demikian, Kurali mengingatkan bahwa bank sentral tetap harus berhati-hati. Volatilitas imbal hasil obligasi di pasar utama dunia serta pergerakan harga energi global masih menjadi risiko yang perlu diperhitungkan dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Aset Hungaria Menguat

Kebijakan pemerintah Magyar untuk kembali memasukkan adopsi euro ke dalam agenda ekonomi turut mendorong penguatan aset-aset Hungaria.

Magyar menggantikan pemimpin sayap kanan Viktor Orban setelah 16 tahun berkuasa pada April. Sejak itu, minat investor asing terhadap aset Hungaria meningkat.

Menurut Deutsche Bank, investor asing telah mengalirkan lebih dari US$13 miliar ke pasar obligasi Hungaria sepanjang tahun berjalan.

Kurali tidak memberikan komentar mengenai level nilai tukar yang seharusnya digunakan Hungaria ketika bergabung dengan ERM-2. Ia mengatakan fokus utama bank sentral saat ini adalah menyesuaikan perekonomian dengan target inflasi 2,5%.

Target tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi perusahaan dan pekerja dalam menentukan harga maupun upah.

Kurali mengatakan keputusan untuk kembali menurunkan target inflasi, jika diperlukan guna memenuhi persyaratan adopsi euro, baru akan dilakukan setelah Hungaria bergabung dengan ERM-2.

Survei Reuters terhadap ekonom pada pekan ini memperkirakan Hungaria dapat bergabung dengan ERM-2 pada 2029 atau 2030.

“Kami siap,” kata Kurali.

“Begitu pemerintah mengambil keputusan untuk memulai proses adopsi euro, kami akan mendukungnya dengan seluruh pengalaman dan keahlian yang kami miliki.” tambahnya.

Risiko Energi dan Inflasi Upah

Di sisi lain, Kurali menyoroti sejumlah risiko eksternal yang masih membayangi perekonomian Hungaria. Volatilitas harga energi dan dampak perubahan iklim menjadi perhatian utama.

Menurut estimasi bank sentral, dampak perubahan iklim telah memangkas 0,4 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Hungaria tahun ini. Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan risiko terhadap inflasi.

Sementara dari dalam negeri, pertumbuhan upah dan harga jasa yang kuat menjadi salah satu risiko utama.

Penurunan target inflasi menjadi 2,5% diharapkan mendorong pelaku ekonomi beradaptasi dengan lingkungan biaya yang lebih rendah dan mengakhiri kenaikan upah dua digit.

Kurali juga menilai perusahaan perlu meningkatkan produktivitas agar tidak terjadi spiral upah dan harga.

Ia menambahkan, inflasi sektor jasa yang berada di kisaran 5% hingga 6% masih terlalu tinggi. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penyesuaian harga satu kali pada sektor perbankan dan telekomunikasi.

Dengan demikian, arah suku bunga Hungaria hingga akhir 2026 akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, kondisi energi global, volatilitas pasar keuangan serta kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah dalam mempersiapkan proses adopsi euro.