BeritaInternasional

Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Bulan Kamis (24/9), Tunggu Sinyal The Fed

Avatar photo
6
×

Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Bulan Kamis (24/9), Tunggu Sinyal The Fed

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Bulan Kamis (24/9), Tunggu Sinyal The Fed


PRESSCORNER.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam sekitar dua bulan pada Kamis (24/9/2026).

Investor mulai menahan diri setelah reli tajam dolar AS yang didorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menyusul data ekonomi AS yang kuat.

Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga, mencapai level tertinggi sejak Mei 2024.

Kenaikan tersebut terjadi setelah imbal hasil tenor dua tahun melonjak paling besar dalam sehari sejak April 2025 pada perdagangan Rabu (23/9).

Penguatan dolar AS terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga dan mengisyaratkan pengetatan lebih lanjut pada pekan lalu.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan independensi bank sentral di tengah dorongan Presiden AS Donald Trump agar suku bunga pinjaman diturunkan.

Strategi tersebut meredakan kekhawatiran pasar bahwa The Fed di bawah kepemimpinan Warsh akan mengambil sikap yang lebih longgar terhadap inflasi. Ekspektasi kebijakan yang lebih ketat turut menopang dolar AS dan aset-aset AS.

“Data PMI AS yang sangat kuat, kenaikan harga minyak, dan sentimen risiko yang lemah semuanya turut mendorong narasi bullish, meskipun pergerakan ini mulai tampak berlebihan jika dibandingkan dengan faktor-faktor fundamental,” ujar Forex Strategist ING Francesco Pesole.

Menurut Pesole, pasar masih perlu mencermati data ekonomi AS berikutnya. Kejutan positif dari data tersebut dapat kembali mendorong pasar memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang hampir 70% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober, berdasarkan CME Group FedWatch Tool. Probabilitas tersebut meningkat dari sekitar 50% sepekan sebelumnya.

Harga minyak dan geopolitik

Selain kebijakan moneter AS, investor juga mencermati harga energi dan perkembangan geopolitik.

Harga minyak Brent kembali menguat setelah sebelumnya melonjak dalam perdagangan semalam, sementara Iran dan AS masih memiliki perbedaan pandangan terkait upaya mengakhiri konflik.

Kenaikan harga minyak cenderung mendukung dolar AS karena investor biasanya mengurangi kepemilikan mata uang negara pengimpor energi seperti euro dan yen.

Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan negara-negara tersebut.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama turun tipis 0,05% menjadi 101,05. Sehari sebelumnya, indeks tersebut melonjak 0,56% ke 101,23, level tertinggi sejak 29 Juli.

Penguatan dolar membuat euro bertahan di sekitar level terendah dua bulan di US$1,1384. Poundsterling juga berada di dekat level terendah tiga bulan di US$1,3240.

Yen mulai pulih

Di Jepang, yen mulai menguat setelah mengalami penurunan selama empat hari berturut-turut. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan prinsip yang menjadi dasar intervensi nilai tukar Jepang-Amerika Serikat pada Juli masih berlaku.

Pernyataan tersebut mengindikasikan Tokyo masih membuka kemungkinan melakukan intervensi bersama jika diperlukan.

Dolar AS turun 0,10% terhadap yen menjadi 158,18 yen, setelah sempat menyentuh 158,49 yen, level tertinggi sejak 3 September.

Senior Forex Strategist HSBC Daragh Maher mengatakan yen masih menghadapi tekanan dalam beberapa pekan mendatang.

Namun, ancaman intervensi valuta asing yang terus ada dapat membatasi penguatan dolar AS terhadap yen.

Sementara itu, dolar Australia berada di US$0,7036, turun 0,06% menjelang rilis data ketenagakerjaan terbaru. Dolar Selandia Baru bergerak datar di US$0,5675.

Di China, yuan offshore juga relatif stabil di level 6,7119 per dolar AS. Investor mencermati kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS dan pertemuannya dengan Presiden Donald Trump, di tengah ketegangan perdagangan, teknologi, Taiwan, dan Iran.