PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di kisaran 5% dalam dua tahun ke depan, di tengah perlambatan ekonomi sejumlah negara berkembang anggota G20.
Dalam OECD Economic Outlook, Interim Report September 2026 dikutip Kamis (24/9/2026), pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2% pada 2026 dan 5,1% pada 2027.
OECD menyebut, perbaikan terms of trade atau nilai tukar perdagangan akan mendukung peningkatan pertumbuhan investasi di Indonesia.
Secara umum, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang G20 diperkirakan tetap relatif stabil.
Namun, pola pertumbuhan di masing-masing negara akan berbeda, dipengaruhi oleh konsumsi, investasi, perdagangan, serta arah kebijakan moneter.
China diproyeksikan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dari 5% pada 2025 menjadi 4,5% pada 2026 dan 4,2% pada 2027.
Menurut OECD, kenaikan inflasi secara bertahap akan memberikan tekanan terhadap konsumsi di China.
Pada saat yang sama, pertumbuhan investasi diperkirakan melambat akibat kebijakan pemerintah untuk mengatasi kelebihan kapasitas produksi atau overcapacity.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah China mengatasi fenomena yang dikenal sebagai involution, yakni persaingan berlebihan dan ekspansi kapasitas yang tidak diimbangi peningkatan permintaan.
Sementara itu, India diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini meski sebelumnya mencatat momentum yang kuat.
Penurunan daya beli diperkirakan menjadi salah satu faktor yang menekan pertumbuhan sebelum ekonomi India kembali pulih secara bertahap pada 2027.
Dalam basis tahun fiskal, pertumbuhan India diproyeksikan turun dari 7,8% pada FY2025-2026 menjadi 7,1% pada FY2026-2027 dan 6,5% pada FY2027-2028.
Meksiko dan kebijakan moneter
Di Meksiko, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi kembali meningkat menjadi 1,5% pada 2026 dan 1,8% pada 2027.
Pemulihan tersebut didukung oleh berlanjutnya kekuatan produksi yang berkaitan dengan sektor teknologi serta dampak tertunda dari penurunan suku bunga kebijakan.
Pelonggaran kebijakan moneter sepanjang periode proyeksi juga diperkirakan mendukung pertumbuhan di sejumlah negara berkembang lainnya, termasuk Brasil dan Turki.
Proyeksi OECD tersebut menunjukkan kondisi ekonomi negara berkembang G20 tidak bergerak seragam.
Sementara China dan India diperkirakan menghadapi perlambatan pertumbuhan, Indonesia diproyeksikan mempertahankan pertumbuhan di atas 5% hingga 2027, dengan investasi menjadi salah satu penopangnya.











