BeritaInternasional

Indeks Dolar AS Tembus 100,79 Rabu (23/9), Pasar Tunggu Arah Suku Bunga The Fed

Avatar photo
1
×

Indeks Dolar AS Tembus 100,79 Rabu (23/9), Pasar Tunggu Arah Suku Bunga The Fed

Sebarkan artikel ini
Indeks Dolar AS Tembus 100,79 Rabu (23/9), Pasar Tunggu Arah Suku Bunga The Fed


PRESSCORNER.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Rabu (23/9/2026).

Penguatan tersebut didorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, di tengah kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Euro melemah ke level terendah sejak akhir Juli dan terakhir turun 0,25% menjadi US$ 1,142. Poundsterling juga melemah 0,3% ke US$ 1,3305.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,24% menjadi 100,79.

Pasar valuta asing saat ini banyak dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter bank-bank sentral utama.

Serangkaian kenaikan suku bunga serta pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral menjadi perhatian investor, terutama setelah konflik AS-Israel dengan Iran mendorong harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Investor kini memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sejumlah pejabat Federal Reserve bahkan memberi sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter masih dapat berlanjut apabila inflasi tidak cukup cepat mereda.

“Ini menjadi tanda lain bahwa cerita The Fed masih dominan, dan pernyataan hawkish dari pejabat The Fed cukup untuk menjaga permintaan terhadap dolar AS,” kata strategist ING Francesco Pesole.

Harga minyak jadi perhatian

Pergerakan harga minyak masih menjadi salah satu faktor utama yang dicermati pasar. Harga minyak mentah Brent kembali naik di atas US$ 99 per barel, setelah sebelumnya mengalami penurunan selama lima hari berturut-turut.

Penurunan harga minyak sebelumnya didorong harapan bahwa diplomasi dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat membuka jalan bagi penyelesaian konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Meski demikian, harga Brent masih mencatat kenaikan sekitar 37% sejak konflik pecah pada akhir Februari. Harga minyak fisik juga tercatat setidaknya 75% lebih tinggi di Eropa dan sekitar 40% lebih tinggi di Amerika Serikat.

Pesole menilai penurunan harga minyak yang lebih berkelanjutan masih perlu dilihat. Dari perspektif suku bunga, harga minyak pada kisaran US$ 90-US$ 100 per barel dinilai belum cukup untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter menjadi lebih dovish.

“Apakah ini akan berkembang menjadi penurunan yang lebih berkelanjutan masih harus dilihat. Dari perspektif suku bunga, minyak yang bergerak di kisaran US$ 90-US$ 100 per barel kemungkinan tidak akan memaksa perubahan dovish dalam ekspektasi pasar,” ujarnya.

Harga produk olahan minyak juga masih tinggi meskipun harga minyak mentah mulai turun dari level puncaknya.

Harga diesel, yang banyak digunakan untuk transportasi, telah mencapai rekor tertinggi di AS dan level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di Eropa.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (22/9) menyatakan, mendukung gagasan pelarangan ekspor diesel untuk menekan harga di dalam negeri.

Namun, sejumlah analis menilai kebijakan tersebut berpotensi mengganggu aliran pasokan produk minyak global.

Analis valuta asing MUFG Michael Wan mengatakan moderasi harga minyak menjadi perkembangan positif bagi pasar, tetapi arah selanjutnya masih belum jelas karena penyelesaian konflik belum memiliki kepastian.

“Kabar baiknya, harga minyak telah sedikit turun dari level tertingginya, tetapi arah ke depan masih belum jelas karena belum ada kepastian mengenai kemungkinan penyelesaian konflik,” kata Wan.

Investor tunggu Trump-Xi

Selain kebijakan moneter dan harga minyak, investor juga mencermati rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Pertemuan tersebut menjadi perhatian pasar karena kedua negara berupaya menjaga stabilitas hubungan bilateral yang masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari perdagangan hingga isu strategis lainnya.

Di pasar valuta asing Asia, yen Jepang berada di sekitar 157,8 per dolar AS. Investor masih mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang setelah kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pekan lalu belum cukup meyakinkan pasar bahwa kenaikan suku bunga berikutnya akan segera terjadi.

Pasar Jepang tutup pada Rabu karena libur nasional. Kondisi likuiditas yang lebih rendah tersebut dinilai analis dapat menjadi salah satu periode yang memungkinkan otoritas melakukan intervensi jika diperlukan.

“Level 160 yen per dolar AS masih menjadi risiko, tetapi pejabat pemerintah dilaporkan telah mengurangi sinyal mengenai intervensi dan tidak lagi menetapkan level tertentu. Karena itu, pembatasan penguatan dolar bisa terjadi lebih awal dan melalui bentuk kebijakan lainnya,” kata Williams dari Intouch.