BeritaBisnis

ICOR Indonesia Masih 6%, Pemerintah Genjot KEK untuk Tingkatkan Efisiensi Ekonomi

Avatar photo
5
×

ICOR Indonesia Masih 6%, Pemerintah Genjot KEK untuk Tingkatkan Efisiensi Ekonomi

Sebarkan artikel ini
ICOR Indonesia Masih 6%, Pemerintah Genjot KEK untuk Tingkatkan Efisiensi Ekonomi


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pemerintah mengakui efisiensi ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan ASEAN. Hal ini tercermin dari incremental capital output ratio (ICOR) Indonesia yang masih berada di level 6%, lebih tinggi dibandingkan negara lain yang berada di kisaran 4%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tingginya ICOR menunjukkan masih besarnya kebutuhan modal untuk menghasilkan tambahan output ekonomi.

“ICOR secara nasional kita adalah 6%, sedangkan negara lain adalah 4%. Oleh karena itu Bapak Presiden mengatakan ekonomi kita sepertiga lebih kurang efisien,” ujar Airlangga dalam Antara Business Forum di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Menurut Airlangga, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia dalam meningkatkan produktivitas investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Salah satu upaya yang didorong pemerintah adalah memperluas pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK). Airlangga mengatakan, tingkat efisiensi investasi di sejumlah KEK justru lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

“Kalau kita masuk ke kawasan ekonomi khusus maka ICOR-nya baik, itu di Morowali atau pun di Wedabai ataupun di Semakai, ICOR-nya kurang dari 3,” katanya.

Karena itu, pemerintah menilai pengembangan KEK dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan efisiensi investasi sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi.

“Sehingga satu-satunya jalan buat kita untuk memacu pertumbuhan ekonomi adalah dengan melanjutkan pengembangan special economic zone,” tegas Airlangga.

Di sisi lain, Airlangga menyebut pengembangan KEK di Indonesia masih memiliki ruang yang besar. Ia membandingkan jumlah tenaga kerja yang terserap dalam pengembangan kawasan tersebut dengan sejumlah negara ASEAN.

Airlangga menyampaikan, investasi yang masuk ke KEK Indonesia telah mencapai sekitar Rp353 triliun hingga Maret 2026 dan menyerap lebih dari 266.000 tenaga kerja.

Pengembangan KEK juga dinilai dapat menjadi sarana untuk menarik investasi dengan produktivitas yang lebih tinggi. Pemerintah ingin kawasan tersebut tidak hanya menjadi lokasi investasi, tetapi juga mampu menciptakan efisiensi dan meningkatkan nilai tambah ekonomi.

Airlangga kemudian mencontohkan pengembangan KEK di China. Ia menyebut Shenzhen merupakan salah satu kawasan ekonomi khusus pertama di China yang kemudian berkembang menjadi pusat teknologi dan perusahaan digital.

China sendiri akan menjadi tuan rumah APEC dan memilih Shenzhen sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“China nanti dalam menjadi host daripada APEC akan diselenggarakan di kota Shenzhen, itu juga salah satu special economic zone pertama dan itu menjadi rumah dari beberapa technology company termasuk di sektor digital seperti Huawei. Jadi itulah yang ingin dipertunjukkan oleh kepemimpinan China di APEC,” pungkas Airlangga.