PRESSCORNER.ID – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka jalur komunikasi melalui perundingan tidak langsung setelah terhenti selama beberapa bulan.
Perkembangan ini memunculkan harapan akan kemajuan menuju penyelesaian konflik Timur Tengah sekaligus membantu menahan harga minyak di sekitar level terendah dalam dua pekan.
Melansir Reuters, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi berkomunikasi dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner melalui mediator di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Rabu (23/9/2026).
Kontak tersebut menjadi komunikasi pertama kedua pihak sejak kesepakatan gencatan senjata sementara runtuh pada Juli 2026.
Meski demikian, baik AS maupun Iran belum menyatakan adanya perubahan dalam posisi masing-masing.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuan antara utusan AS dan mediator Iran berlangsung produktif.
“Steve dan Jared melakukan pertemuan yang sangat produktif hari ini dengan para mediator Iran. Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya,” kata Trump.
Trump mengatakan terdapat momentum untuk mencapai kesepakatan antara kedua negara.
Sebelumnya, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Trump menyatakan dirinya harus memilih antara mencapai kesepakatan dengan Iran atau “menghancurkan” negara tersebut.
Iran sendiri menyampaikan sejumlah syarat melalui mediator Qatar. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Tehran meminta penghentian perang di seluruh front serta penghentian tindakan yang disebut Iran sebagai agresi AS.
Harga minyak tertekan
Terbukanya kembali jalur diplomasi turut membantu menjaga harga minyak di sekitar level terendah dalam dua pekan.
Harga minyak mentah Brent bertahan sedikit di bawah US$ 100 per barel setelah sebelumnya menembus level tersebut pada bulan ini akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan tersebut telah menewaskan ribuan orang, mengganggu pasokan energi global dan meluas ke sejumlah negara di kawasan.
Ketidakpastian terkait konflik menjadi perhatian pasar karena kawasan Teluk merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi minyak dunia.
Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati Selat Hormuz.
Kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni dan ditandatangani Trump serta Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya membuka kemungkinan pencabutan sanksi keuangan dan pencairan aset Iran dengan imbalan pembicaraan mengenai pembatasan program nuklir Iran.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh beberapa pekan kemudian akibat perbedaan pandangan mengenai aturan pelayaran di Selat Hormuz.
Iran ingin meningkatkan kontrol atas jalur tersebut dan menarik biaya dari kapal yang melintas. Pemerintah AS menolak tuntutan tersebut.
Meskipun serangan terhadap kapal tanker masih terjadi hampir setiap hari, lalu lintas melalui Selat Hormuz secara bertahap meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah produsen minyak juga membayar perusahaan pelayaran dengan biaya yang disebut mencapai seperempat nilai kargo untuk mematikan transponder, melewati jalur tersebut dan memindahkan minyak ke kapal lain di luar Selat Hormuz.
Ekspor minyak Uni Emirat Arab (UEA) bahkan telah kembali ke level sebelum perang. Arab Saudi juga telah menjual sekitar 60 juta barel minyak dari kawasan Teluk untuk pengiriman pada September dan Oktober di luar Selat Hormuz, tepatnya di lepas pantai Oman.
Gangguan pasokan masih berlanjut
Meski arus perdagangan mulai pulih, gangguan pasokan masih menekan pasar energi global.
Sekitar sepertiga pasokan minyak dari kawasan Teluk diperkirakan masih belum masuk ke pasar global. Gangguan terutama dirasakan pada produk minyak olahan seperti diesel.
Keterbatasan pasokan produk olahan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi kebijakan suku bunga di berbagai negara.
Risiko gangguan pasokan juga meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran memperluas aktivitasnya di Yaman.
Perkembangan tersebut mengancam lalu lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb di pintu selatan Laut Merah, yang menjadi jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi.
Di sisi lain, AS telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang semakin menekan kondisi ekonomi negara tersebut.
Pejabat Iran menyatakan Tehran bersedia menghadapi dampak blokade untuk mencapai tujuannya. Iran juga menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama blokade AS masih diberlakukan.











