BeritaInternasional

Selat Hormuz Makin Sepi, Transit Kapal Komoditas Capai Titik Terendah 3 Bulan

Avatar photo
25
×

Selat Hormuz Makin Sepi, Transit Kapal Komoditas Capai Titik Terendah 3 Bulan

Sebarkan artikel ini
Selat Hormuz Makin Sepi, Transit Kapal Komoditas Capai Titik Terendah 3 Bulan


PRESSCORNER.ID – Aktivitas pelayaran kapal komoditas melalui Selat Hormuz turun ke level terendah dalam sekitar tiga bulan.

Data pelayaran menunjukkan hanya dua kapal tanker yang melintasi jalur strategis tersebut pada Senin (24/8/2026).

Mengutip Reuters, kedua kapal tersebut memasuki kawasan Teluk dari arah Teluk Oman.

Data dari pelacak kapal Kpler menunjukkan jumlah tersebut menjadi yang terendah sejak awal Mei dan jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 14 kapal.

Dua kapal yang melintas terdiri dari satu kapal pengangkut gas berukuran sangat besar dan satu very large crude carrier (VLCC).

Jumlah tersebut juga turun dibandingkan tujuh kapal dari semua jenis yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu (23/8).

Namun, data tersebut masih dapat berubah karena sejumlah kapal mematikan transponder navigasi saat melintasi jalur tersebut.

Data sementara dari Vortexa menunjukkan arus minyak yang melintasi Selat Hormuz pada Senin mencapai sekitar 5 juta barel per hari (bpd).

Berdasarkan rata-rata pergerakan tujuh hari hingga 23 Agustus, volume transit minyak berada di kisaran 6 juta-7 juta bpd.

Iran Perketat Aturan Pelayaran

Penurunan aktivitas pelayaran terjadi ketika Iran memperketat tekanan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Iran mengatakan telah memasukkan 45 kapal tanker ke dalam daftar hitam karena dianggap melanggar aturan pelayaran di selat tersebut.

Teheran juga mengancam akan mengambil tindakan terhadap kapal yang melakukan transfer muatan dari kapal ke kapal (ship-to-ship transfer) dengan kapal-kapal tersebut.

Langkah tersebut meningkatkan tekanan terhadap jalur pelayaran utama energi dunia, terutama setelah konflik Iran memasuki bulan keenam.

“Masih harus dilihat bagaimana Otoritas Selat Teluk Persia Iran dapat menegakkan kepatuhan dari kapal-kapal yang tidak mematuhi aturan tersebut,” kata Xavier Tang, analis pasar senior Vortexa.

“Jika konflik di kawasan meningkat atau kapal-kapal diserang di titik strategis tersebut, transit melalui Selat Hormuz dapat terdampak,” lanjutnya.

Sebelum konflik berlangsung, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima arus global minyak mentah dan gas alam cair (LNG).

Sanksi AS Jadi Sorotan

Penurunan aktivitas pelayaran juga terjadi setelah Iran berjanji membalas perluasan sanksi Amerika Serikat (AS) yang bertujuan memutus sumber pendapatan ekonomi Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah tersebut pada Senin. Namun, Washington belum menjatuhkan sanksi paling berat.

Bessent memperingatkan negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran berisiko kehilangan akses terhadap sistem keuangan berbasis dolar AS.

Di sisi lain, aktivitas pelayaran di jalur strategis lain, yakni Bab el-Mandeb di sisi berlawanan Semenanjung Arab, relatif stabil.

Data Kpler menunjukkan sebanyak 30 kapal melintasi Bab el-Mandeb pada Senin. Jumlah tersebut sejalan dengan rata-rata 10 hari dan sedikit lebih tinggi dibandingkan 28 kapal pada Minggu.

Perkembangan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian pasar energi karena gangguan di jalur tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak dan LNG global.