PRESSCORNER.ID – Bank sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) menegaskan akan menyesuaikan instrumen kebijakan moneter secara tepat waktu serta memfasilitasi penerbitan panda bond guna menopang perekonomian yang tengah melambat.
Dalam pernyataan yang dirilis Minggu (2/8/2026), PBOC menyatakan akan tetap menerapkan kebijakan moneter yang longgar (appropriately loose) serta menjaga likuiditas tetap memadai.
Pernyataan tersebut merupakan hasil rapat kerja yang dipimpin Gubernur PBOC Pan Gongsheng pada Sabtu (1/8) untuk menyusun arah kebijakan pada paruh kedua 2026.
PBOC juga berkomitmen untuk terus mendorong keterbukaan sektor keuangan.
Bank sentral China akan “secara bertahap mendorong pembukaan pasar keuangan yang lebih luas, memperkuat kerja sama infrastruktur keuangan domestik dan internasional, serta memperkaya instrumen pengelolaan likuiditas dan lindung nilai risiko,” demikian isi pernyataan tersebut.
Selain itu, PBOC menyatakan akan terus mendukung penyelesaian risiko utang kendaraan pembiayaan pemerintah daerah (local government financing vehicles/LGFV) sekaligus mendorong transformasi model bisnisnya agar lebih berorientasi pasar.
Dorong panda bond dan peran Hong Kong
Sebagai bagian dari upaya memperluas penggunaan yuan di pasar internasional, PBOC juga akan mendukung lebih banyak lembaga asing menerbitkan obligasi berdenominasi yuan atau panda bond.
Bank sentral juga berkomitmen membantu Shanghai memperkuat layanan keuangan lintas negara dan jasa keuangan lepas pantai (offshore), sekaligus memperkokoh posisi Hong Kong sebagai pusat utama transaksi yuan di luar daratan China.
Respons perlambatan ekonomi
Langkah PBOC diambil setelah Politbiro Partai Komunis China pada Kamis (31/7) menyerukan percepatan belanja fiskal untuk proyek-proyek infrastruktur yang telah dianggarkan pada sisa tahun ini.
Seruan tersebut muncul setelah data ekonomi menunjukkan produk domestik bruto (PDB) China hanya tumbuh 4,3% pada kuartal II-2026, laju paling lambat dalam lebih dari tiga tahun.
Angka tersebut juga berada di bawah batas bawah target pertumbuhan ekonomi pemerintah tahun ini yang dipatok di kisaran 4,5% hingga 5,0%.
Dalam pertemuan tersebut, Politbiro mengakui masih terdapat berbagai tantangan yang membayangi perekonomian China.
Melalui ringkasan hasil rapat yang dikutip kantor berita Xinhua, pemerintah menegaskan perlunya mempercepat realisasi belanja fiskal sekaligus meningkatkan fleksibilitas dan sifat antisipatif kebijakan moneter untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.











