BeritaInternasional

Rencana FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia Gagal, Posisi Gianni Infantino Terancam

Avatar photo
4
×

Rencana FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia Gagal, Posisi Gianni Infantino Terancam

Sebarkan artikel ini
Rencana FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia Gagal, Posisi Gianni Infantino Terancam


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan besar setelah rencananya menjual sebagian kepemilikan hak komersial turnamen FIFA kepada investor swasta gagal total akibat gelombang penolakan dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola dunia.

Dalam pernyataan resmi FIFA yang dirilis Jumat (31/7/2026), Infantino mengakui bahwa usulan pembentukan entitas komersial baru untuk mengelola Piala Dunia dan sejumlah turnamen internasional lainnya tidak mendapat dukungan luas. Rencana tersebut mencakup penjualan 20% saham entitas baru kepada investor swasta.

Pengakuan tersebut mengakhiri konflik internal selama tiga hari yang mengguncang dunia sepak bola internasional. Puncaknya terjadi ketika UEFA, konfederasi sepak bola Eropa yang menjadi organisasi regional paling berpengaruh sekaligus terkaya di bawah FIFA, mengumumkan boikot terhadap seluruh kegiatan FIFA hingga rencana tersebut dibatalkan.

Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi Infantino, yang selama ini dikenal memiliki posisi sangat kuat di FIFA. Padahal, baru kurang dari dua pekan lalu FIFA sukses menyelenggarakan Piala Dunia paling menguntungkan dalam sejarah.

Rencana tersebut merupakan salah satu proyek utama Infantino. Kini, kegagalannya membuat administrator asal Swiss berusia 56 tahun itu berada dalam posisi yang semakin terisolasi di pucuk pimpinan FIFA, padahal ia sebelumnya diperkirakan akan kembali memimpin organisasi tersebut untuk masa jabatan berikutnya.

“Akhir pekan lalu, Infantino berada di puncak. Ia hampir pasti terpilih kembali dengan kemenangan telak karena berhasil menyelenggarakan turnamen yang sangat sukses secara finansial. Kini semua itu berada dalam ancaman,” kata Profesor Ekonomi College of the Holy Cross di Massachusetts, Victor Matheson, kepada Reuters.

Peluang Terpilih Kembali Berubah Drastis

Sebelum Piala Dunia berlangsung, peluang Infantino untuk memenangkan pemilihan Presiden FIFA periode keempat pada Kongres FIFA di Maroko pada Maret mendatang dinilai sangat besar. Saat itu belum ada kandidat pesaing yang muncul.

Namun, situasi berubah drastis hanya dalam waktu tiga hari. Bahkan konfederasi-konfederasi yang selama ini dikenal sebagai pendukung setia FIFA ikut mengecam minimnya konsultasi terkait proposal tersebut.

Infantino juga menghadapi tudingan bahwa dirinya berupaya “menjual jiwa sepak bola” demi kepentingan komersial.

Pada Jumat, FIFA sempat mempertahankan proposal tersebut melalui pernyataan yang menegaskan bahwa skema itu akan menghasilkan tambahan pendanaan jutaan dolar AS bagi federasi-federasi nasional. Namun, sejumlah orang terdekat Infantino justru mulai mengambil jarak.

Penasihat senior FIFA Carlos Cordeiro memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Ia menyebut proposal tersebut sebagai “kesepakatan yang buruk bagi sepak bola.”

Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) FIFA Kevin Lamour menuding staf FIFA telah “disesatkan” oleh Infantino dan menyebut proposal tersebut sebagai “proyek satu orang.”

Gaya Kepemimpinan Infantino Kembali Dipertanyakan

Sejumlah sumber Reuters menyebut gaya kepemimpinan Infantino yang cenderung mengambil keputusan secara independen telah lama membuat banyak pihak di sekitarnya merasa frustrasi.

Infantino mulai memimpin FIFA pada 2016 setelah skandal korupsi mengakhiri kepemimpinan Sepp Blatter yang berlangsung selama 17 tahun.

Meski demikian, selama ini kewenangan serta kemampuannya menjaga kondisi keuangan FIFA tetap kuat sehingga berbagai kontroversi sebelumnya tidak banyak memengaruhi posisinya.

Pada 2018, Infantino juga pernah membatalkan rencana investasi swasta senilai US$25 miliar untuk Piala Dunia Antarklub setelah mendapat penolakan keras dari UEFA.

Ia juga mampu bertahan dari kritik besar saat membela Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Namun, manuver terbarunya kali ini justru berbalik menjadi bumerang.

Menurut Reuters, Infantino gagal membangun konsensus sebelum mengumumkan proposal tersebut. Banyak pemangku kepentingan utama bahkan baru mengetahui rencana itu setelah detailnya bocor ke media pada Selasa.

Mereka juga disebut tidak dilibatkan ketika Infantino bertemu para investor dan memilih Thrive Capital—perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner dan memiliki hubungan keluarga dekat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump—untuk memimpin kelompok investor yang diusulkan.

Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bahkan menyebut proses tersebut sebagai tindakan yang “sama sekali tidak dapat diterima” karena mengabaikan prosedur yang selama ini berlaku.

AFC yang beranggotakan 47 federasi nasional kemudian menyerukan reformasi kelembagaan di tubuh FIFA.

Kedekatan dengan Donald Trump Disorot

Hubungan dekat Infantino dengan Presiden AS Donald Trump juga kembali menjadi sorotan.

Sebelumnya, FIFA memberikan Penghargaan Perdamaian perdana kepada Trump pada Desember lalu.

Mantan Wakil Presiden FIFA Jim Boyce menilai kedekatan Infantino dengan kekuasaan politik kemungkinan memengaruhi cara kepemimpinannya.

“Saya pikir yang terjadi adalah ketenaran tampaknya sedikit membuat Gianni berubah, dan hubungannya dengan Donald Trump selama Piala Dunia benar-benar luar biasa,” ujar Boyce kepada BBC.

Selama Piala Dunia, Trump mengaku telah menelepon Infantino untuk meminta kartu merah pemain Amerika Serikat Folarin Balogun dibatalkan agar dapat tampil pada laga babak gugur.

Balogun akhirnya memang diizinkan bermain setelah keputusan badan disiplin independen FIFA. Meski demikian, keputusan tersebut semakin memperkuat persepsi adanya campur tangan Trump terhadap urusan sepak bola melalui hubungan dekatnya dengan Infantino.

“Itu juga tidak membantu karena ada anggota keluarga Kushner yang terlibat dalam keseluruhan rencana ini,” kata analis pemasaran olahraga Bob Dorfman kepada Reuters.

“Terlebih setelah apa yang terjadi selama Piala Dunia terkait Balogun dan Trump. Keterlibatan kerabat Trump dalam rencana ini hanya membuat situasinya menjadi jauh lebih buruk,” tambahnya.

Trump pada Jumat membantah telah berbicara dengan Infantino mengenai proposal penjualan sebagian kepemilikan hak komersial Piala Dunia tersebut.

Peluang Infantino Masih Terbuka

Meski peluang munculnya kandidat penantang dalam pemilihan Presiden FIFA kini semakin besar, sejumlah pengamat menilai masih terlalu dini untuk menghapus peluang Infantino mempertahankan jabatannya.

Proposal penjualan saham tersebut sejak awal ditujukan kepada 211 federasi sepak bola nasional yang memiliki hak suara dalam pemilihan Presiden FIFA. Banyak di antara federasi tersebut selama ini sangat bergantung pada bantuan pendanaan FIFA dan memperoleh manfaat selama kepemimpinan Infantino.

Untuk kembali terpilih hingga 2031, Infantino membutuhkan dukungan dua pertiga suara pada putaran pertama atau mayoritas sederhana pada putaran berikutnya.

Dorfman menilai permintaan maaf secara terbuka dapat membantu memulihkan posisinya.