BeritaBisnis

75 Tahun Hubungan RI-Swiss: Momentum Kedaulatan Teknologi&Penguatan Ekonomi Bilateral

Avatar photo
6
×

75 Tahun Hubungan RI-Swiss: Momentum Kedaulatan Teknologi&Penguatan Ekonomi Bilateral

Sebarkan artikel ini
75 Tahun Hubungan RI-Swiss: Momentum Kedaulatan Teknologi&Penguatan Ekonomi Bilateral


PRESSCORNER.ID – BERN. Tahun 2026 menjadi tonggak sejarah penting bagi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Swiss yang telah terjalin sejak tahun 1951. 

Memasuki usia ke-75, kedua negara sepakat untuk menjadikan peringatan ini sebagai momentum untuk mengoptimalkan potensi kerja sama strategis, terutama di tengah tantangan geopolitik global yang dinamis.

Kemandirian dan kedaulatan teknologi salah satu isu krusial yang diangkat dalam peringatan ini adalah kedaulatan teknologi (technological sovereignty). Di tengah persaingan teknologi antara kubu-kubu besar dunia, Indonesia dan Swiss memiliki posisi unik untuk membentuk semacam “Gerakan Non-Blok” di bidang teknologi.

“Indonesia sebagai negara yang memiliki politik luar negeri bebas aktif, dan Swiss, negara yang netral, memiliki kekuatan. Kalau kita bisa jadikan satu, jadi semacam non-aligned dalam bidang revolusi teknologi,” tutur Duta Besar Indonesia untuk Swiss I Gede Ngurah Swajaya, kepada delegasi jurnalis Grup Media Kompas, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern, Swiss, Senin (29/6/2026).

Ngurah Swajaya menambahkan, tanpa kemandirian teknologi, Indonesia akan sulit bersaing jika hanya bergantung pada kubu-kubu yang bertikai.

Surplus Perdagangan dan Hilirisasi Industri

Dalam bidang ekonomi, hubungan kedua negara menunjukkan performa yang sangat positif. Berdasarkan data Januari-Oktober 2025, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan Swiss sebesar hampir US$ 5 miliar.

Keberhasilan ini didukung oleh implementasi perjanjian perdagangan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Kata Ngurah Swajaya, kerja sama kini diarahkan pada hilirisasi industri, khususnya melalui perjanjian pengolahan sumber daya mineral dan metal yang baru saja ditandatangani.

“Indonesia punya sumber daya alam, sedangkan Switzerland memiliki jaringan mengenai global commodity trading, memiliki teknologi, memiliki investasi,” tandas Ngurah Swajaya. Sehingga.lanjut dia, hal tersebut bisa memberikan nilai tambah dalam kerja sama antara kedua negara.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi sistem ganda (dual system) ala Swiss yang telah sukses diterapkan di beberapa kota seperti Solo, Cikarang, dan Bandung. Diharapkan, model ini dapat direplikasi di provinsi lain untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, sektor ekonomi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan fintech, menjadi prioritas baru. Swiss yang unggul dalam inovasi teknologi diharapkan dapat menjadi mitra dalam membangun infrastruktur digital yang aman bagi Indonesia.

Masuk usia ke-75 hubungan diplomatic RI-Swiss, peningkatan hubungan people-to-people juga terus digalakkan melalui diplomasi kuliner dan pengajaran bahasa Indonesia (BIPA) yang peminatnya terus bertambah di Swiss. Dukungan terhadap diaspora Indonesia yang membuka restoran di Swiss dipandang sebagai cara efektif untuk memperkenalkan budaya dan potensi pariwisata tanah air.

Dengan berbagai capaian selama 75 tahun ini, hubungan Indonesia dan Swiss diharapkan terus tumbuh menjadi kemitraan yang saling melengkapi dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat kedua bangsa.