BeritaInternasional

SK Hynix Bangkit Berkat Chip Niche, Kini Lebih Bernilai dari Samsung

Avatar photo
8
×

SK Hynix Bangkit Berkat Chip Niche, Kini Lebih Bernilai dari Samsung

Sebarkan artikel ini
SK Hynix Bangkit Berkat Chip Niche, Kini Lebih Bernilai dari Samsung


PRESSCORNER.ID – Keputusan SK Hynix untuk bertaruh pada segmen chip memori yang dulu dianggap niche akhirnya mengantarkan perusahaan itu menjadi salah satu pemain paling bernilai di Korea Selatan, bahkan sempat melampaui Samsung Electronics di tengah ledakan permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI).

Perjalanan tersebut berawal pada 2012, ketika SK Group mengakuisisi Hynix Semiconductor dalam sebuah kesepakatan yang saat itu dinilai berisiko secara finansial.

Pada periode itu, Samsung jauh lebih dominan dengan valuasi lebih dari 10 kali lipat dan menjadi pemimpin pasar Dynamic Random-Access Memory (DRAM) yang digunakan pada laptop dan smartphone.

Namun, SK Hynix memilih jalur berbeda dengan berfokus pada pengembangan high-bandwidth memory (HBM), jenis memori yang awalnya dianggap terlalu spesifik dan belum banyak digunakan oleh pelanggan pusat data.

Perusahaan ini merilis produk HBM pertama di dunia bersama AMD pada 2014. Meski sempat tertinggal dalam pengembangan generasi berikutnya dan bahkan dipertimbangkan untuk menghentikan proyek tersebut, manajemen akhirnya memutuskan untuk terus melanjutkan investasi besar di teknologi itu.

Keputusan tersebut menjadi titik balik. SK Hynix memperkuat kapasitas produksi dan memposisikan diri untuk memenuhi kebutuhan Nvidia, yang kemudian menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan permintaan chip AI global.

Meski sempat mengalami tekanan akibat kelebihan kapasitas pada 2019, terutama saat permintaan dari sektor kripto dan gaming melemah, investasi tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika ledakan kecerdasan buatan dimulai setelah peluncuran ChatGPT pada 2022.

HBM kemudian menjadi komponen penting dalam chip akselerator AI yang digunakan di pusat data.

Kini, SK Hynix menjadi pemasok utama HBM untuk Nvidia, memperkuat posisinya di pasar semikonduktor global.

Perjalanan perusahaan tidak selalu mulus. Didirikan pada 1983 dengan nama Hyundai Electronics, SK Hynix beberapa kali menghadapi krisis, termasuk hampir bangkrut pada 2001 sebelum diselamatkan oleh kreditur negara. Perusahaan kemudian beberapa kali berpindah kepemilikan sebelum diakuisisi SK Group pada 2012.

Ketua SK Group Chey Tae-won sebelumnya menyebut akuisisi tersebut bertujuan mengubah Hynix dari produsen chip komoditas menjadi perusahaan semikonduktor bernilai strategis tinggi.

Strategi fokus pada HBM terbukti menjadi pembeda utama dalam siklus industri yang sangat fluktuatif. Saat pasar semikonduktor jatuh pada 2023, SK Hynix sempat mencatat kerugian operasional besar.

Namun, pada 2024 perusahaan membukukan laba tertinggi dalam sejarahnya dan bahkan sempat melampaui Samsung sebagai produsen DRAM terbesar dunia pada 2025.

Kini, meski Samsung masih menjadi pesaing utama, SK Hynix berada di posisi terdepan dalam pasar HBM yang menjadi tulang punggung era AI.

Keberhasilan ini turut mengangkat kapitalisasi pasar perusahaan hingga menjadikannya salah satu emiten paling bernilai di Korea Selatan.

“Tidak ada yang membayangkan SK Hynix bisa melampaui Samsung,” kata seorang akademisi Seoul National University.

“Namun HBM menjadi titik balik yang mengubah peta persaingan industri.”