BeritaBisnis

Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam Kunci Tambah Nilai Ekonomi Indonesia

Avatar photo
11
×

Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam Kunci Tambah Nilai Ekonomi Indonesia

Sebarkan artikel ini
Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam Kunci Tambah Nilai Ekonomi Indonesia


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Sektor sumber daya alam (SDA) masih menjadi tulang punggung ekspor Indonesia.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan sekitar 60% total ekspor nasional berasal dari komoditas SDA, dengan batubara, minyak sawit mentah (CPO), dan ferro alloy menjadi penyumbang terbesar.

Pada 2024, batubara menjadi komoditas ekspor terbesar dengan kontribusi 8,65% terhadap total ekspor Indonesia, disusul CPO sebesar 8,63% dan ferro alloy 5,82%.

Nilai ekspor ketiganya mencapai us$ 72,05 miliar  atau setara sekitar Rp 1.152 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dollar AS.

Rinciannya, ekspor batubara mencapai  US$ 30,49 miliar, produk sawit US$ 27,76 miliar dan ferro alloy sekitar US$ 13,8 miliar.

Besarnya kontribusi tersebut mendorong munculnya dorongan agar pengelolaan ekspor komoditas strategis semakin terintegrasi sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi negara.

Pengamat pasar modal Fendi Susiyanto menilai batubara, sawit, dan nikel merupakan aset strategis Indonesia yang seharusnya mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.

“Batubara, sawit, dan nikel sangat strategis dan volume ekspornya sangat tinggi. Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas penting dunia itu bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada perekonomian,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Menurut Fendi, langkah pemerintah membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) relevan untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas SDA.

Ia menilai lalu lintas ekspor komoditas selama ini masih menghadapi tantangan dari sisi transparansi dan akuntabilitas, termasuk karena sebagian eksportir memiliki perusahaan afiliasi di luar negeri.

Ia menambahkan, Indonesia semestinya memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam perdagangan komoditas global, terutama untuk CPO mengingat statusnya sebagai produsen terbesar dunia.

Dengan peran yang lebih besar dalam pengelolaan volume dan perdagangan, penerimaan negara dinilai berpotensi meningkat.

Fendi juga menilai DSI dapat memperkuat pengawasan ekspor apabila mampu menerapkan sistem pemantauan yang lebih terintegrasi.

“Jika DSI mampu melakukan monitoring dan menertibkan transaksi ekspor melalui mekanisme satu pintu, rasanya akan banyak dampak positif yang bisa dinikmati pemerintah dan rakyat Indonesia dari sumber daya alamnya ini,” tegasnya.

Selain tata kelola ekspor, pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) dinilai menjadi area yang berpotensi dioptimalkan. Selama ini pemerintah terus berupaya meningkatkan penempatan DHE di perbankan domestik melalui berbagai kebijakan, namun hasilnya dinilai belum maksimal.

Menurut Fendi, optimalisasi DHE dapat memperkuat cadangan devisa nasional dan meningkatkan kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar saat rupiah menghadapi tekanan di pasar keuangan global.

Ia menilai penguatan pengelolaan ekspor dan DHE dari komoditas strategis dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan manfaat ekonomi SDA sekaligus mendukung stabilitas rupiah di tengah dinamika ekonomi global.