PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Ketahanan sektor eksternal Indonesia menghadapi tantangan baru seiring terus menyusutnya cadangan devisa di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Setelah turun selama lima bulan berturut-turut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar US$ 144,9 miliar, menjadi level terendah sejak Juli 2024 dan menandai penurunan sekitar US$ 11,6 miliar atau 7,41% dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
Pelemahan cadangan devisa terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan stabilisasi pasar keuangan.
Bank Indonesia (BI) menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Penurunan itu terjadi meski pemerintah memperoleh tambahan devisa dari penerbitan global bond, penerimaan pajak, dan pendapatan jasa.
Tekanan terhadap cadangan devisa tidak lepas dari melemahnya rupiah. Sepanjang Mei 2026, mata uang Garuda terdepresiasi 3,08% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dari Rp 17.346 per dolar AS pada akhir April menjadi Rp 17.881 per dolar AS pada akhir Mei.
Meski demikian, BI menegaskan posisi cadangan devisa saat ini masih berada dalam kategori aman.
Cadangan devisa Indonesia setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
“Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Senin (8/6/2026).
Namun, sejumlah ekonom mengingatkan ruang gerak cadangan devisa dapat semakin tertekan apabila pelemahan rupiah berlanjut. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai level Rp 18.500 per dolar AS menjadi batas psikologis yang perlu diwaspadai pasar.
“Dalam kondisi tersebut, tekanan psikologis pasar bisa meningkat, kebutuhan intervensi BI bisa lebih besar, dan cadangan devisa berpotensi turun lebih cepat,” kata Josua.
Menurutnya, risiko pelemahan rupiah masih cukup besar dalam jangka pendek. Dari sisi global, pasar dibayangi ketegangan geopolitik, tingginya harga minyak dunia, imbal hasil aset AS yang tetap menarik, serta kecenderungan investor global mengurangi eksposur ke aset negara berkembang.
Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati perkembangan defisit fiskal, kualitas belanja pemerintah, konsistensi kebijakan ekonomi, serta berlanjutnya arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi.
Untuk semester II-2026, Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.200 per dolar AS. Dalam skenario tersebut, cadangan devisa diperkirakan masih dapat dijaga pada rentang US$ 140 miliar hingga US$ 145 miliar.
Namun jika tekanan global dan domestik meningkat, nilai tukar rupiah berpotensi menguji level Rp 18.300 hingga Rp 18.500 per dolar AS.
Kondisi itu dapat mendorong cadangan devisa turun lebih dalam ke kisaran US$ 135 miliar hingga US$ 140 miliar akibat meningkatnya kebutuhan intervensi di pasar valas.
Di sisi lain, Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto melihat prospek yang lebih positif.
Ia memperkirakan cadangan devisa masih mampu bertahan di sekitar US$ 143 miliar hingga akhir tahun, ditopang oleh potensi masuknya kembali arus modal asing ke pasar keuangan domestik.
Selain itu, realisasi investasi asing langsung dan surplus neraca perdagangan dinilai masih cukup kuat untuk menopang pasokan valuta asing.
“Ini akan menahan posisi cadangan devisa, terutama dari sisi pasokan valas. Trade surplus juga kelihatannya masih akan terus terjaga,” ujar Myrdal.
Myrdal bahkan memperkirakan rupiah dapat ditutup di level Rp 17.602 per dolar AS pada akhir 2026. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa dalam jangka pendek rupiah masih menghadapi sejumlah level psikologis penting.
Menurutnya, area Rp 18.300 per dolar AS menjadi titik resistensi terdekat. Jika level tersebut ditembus, peluang pelemahan menuju Rp 18.500 hingga Rp 18.700 per dolar AS akan semakin terbuka.
Karena itu, pelaku pasar menilai BI perlu tetap aktif menjaga stabilitas pasar valas agar kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik tetap terpelihara.
Di tengah cadangan devisa yang terus menurun, arah pergerakan rupiah pada paruh kedua tahun ini akan menjadi faktor kunci yang menentukan seberapa kuat bantalan eksternal Indonesia mampu bertahan menghadapi gejolak global.











