BeritaInternasional

Panik Pasar Modal Senin (8/6): Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9%

Avatar photo
10
×

Panik Pasar Modal Senin (8/6): Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9%

Sebarkan artikel ini
Panik Pasar Modal Senin (8/6): Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9%


PRESSCORNER.ID – Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan hebat pada perdagangan hari Senin (8/6/2026) pagi. Indeks acuan KOSPI terjun bebas hampir 9% hingga memicu aktivasi sistem penghentian perdagangan otomatis (circuit breaker).

Kepanikan melanda setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat memicu spekulasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), sekaligus mengakhiri reli panjang saham sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Melansir Reuters pada sesi awal perdagangan, KOSPI ambles hingga 8,8%. Kejatuhan ini dimotori oleh merosotnya dua raksasa semikonduktor global asal Negeri Gingseng, yakni Samsung Electronics dan SK Hynix, yang masing-masing harganya langsung rontok lebih dari 10%.

Kronologi Intervensi Pasar: Aktivasi Pembatasan Dagang

Volatilitas yang luar biasa ekstrem di bursa Seoul memaksa otoritas bursa melakukan intervensi guna menahan kepanikan investor:

  • Pukul 00.03 GMT: Sistem Circuit Breaker resmi diaktifkan. Seluruh aktivitas perdagangan dihentikan total (trading halt) selama 20 menit. Ini merupakan aktivasi pertama dalam tiga bulan terakhir, sekaligus yang ketiga sepanjang tahun 2026 dan yang kesembilan dalam sejarah bursa Korea.
  • Pasca-Halt: Begitu perdagangan dibuka kembali, otoritas bursa langsung mengaktifkan mekanisme pembatasan sekunder berupa “sidecar”. Langkah darurat ini berhasil meredam kepanikan dan memangkas koreksi KOSPI menjadi minus 4,6% pada pukul 00.39 GMT.

Rontoknya bursa Seoul mengekor performa buruk bursa Wall Street pada akhir pekan lalu. Indeks teknologi Nasdaq jatuh 4,2%, diikuti kejatuhan Indeks Semikonduktor Philadelphia sebesar 10%.

Sentimen ini kian diperparah oleh anjloknya instrumen investasi iShares MSCI South Korea ETF sebesar 14% di bursa AS.

“Kejutan dari data ketenagakerjaan AS memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi. Hal ini dimanfaatkan pasar sebagai pembenaran untuk melakukan koreksi massal pada sektor saham cip yang dinilai sudah terlalu jenuh beli (overheated),” jelas Han Ji-young, analis dari Kiwoom Securities.

Meski demikian, Han menilai volatilitas ini bersifat jangka pendek dan kecil kemungkinan akan berlanjut berhari-hari karena valuasi KOSPI saat ini sudah kembali murah dan fundamental kinerja laba emiten cip masih kokoh.

Aksi Jual Asing dan Rekor Historis KOSPI

Data transaksi mencatat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai 200 miliar won ($128,86 juta). Penjualan ini memperpanjang rekam jejak aksi jual investor asing menjadi 21 sesi berturut-turut.

Menariknya, meski mengalami koreksi dalam pada hari Senin ini, indeks KOSPI secara akumulatif masih mencatatkan pertumbuhan fantastis sebesar 83% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD).

Pada tahun 2025 lalu, indeks ini meroket 76% mencatatkan lonjakan tahunan terbesar sejak 1999 sekaligus menjadi bursa dengan kinerja terbaik di antara pasar saham utama global.

Intervensi Darurat Mata Uang Won

Di pasar valuta asing, mata uang Won Korea bergerak menguat tipis 0,4% ke level 1.552,4 per dolar AS pada Senin pagi.

Penguatan ini merupakan respons teknis setelah pada hari Jumat lalu Won sempat terdepresiasi ke level 1.615,0 per dolar AS, titik terlemahnya sejak Maret 2009.

Anjloknya nilai tukar tersebut memaksa otoritas keuangan Korea Selatan menggelar rapat darurat pada hari Minggu, di mana pemerintah berkomitmen penuh untuk mengambil tindakan tegas terhadap segala bentuk perdagangan spekulatif yang merugikan mata uang nasional.