PRESSCORNER.ID – Sebuah kapal perusak milik Amerika Serikat (SA) mencegat dua kapal tanker minyak yang mencoba meninggalkan Iran pada Selasa (14/4/2026), sehari setelah blokade yang diperintahkan Presiden Donald Trump resmi diberlakukan.
Melansir Reuters, menurut seorang pejabat AS, kedua kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Chabahar di Teluk Oman dan dihubungi oleh kapal perang melalui komunikasi radio untuk berbalik arah. Tidak dijelaskan apakah ada peringatan lanjutan yang diberikan.
Langkah ini menjadi bagian dari implementasi awal blokade AS terhadap Iran, yang bertujuan menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Blokade Jadi Instrumen Tekanan Baru
Pemerintah AS berharap blokade ini dapat memaksa Iran menerima syarat negosiasi untuk mengakhiri perang yang dimulai sejak 28 Februari, termasuk membuka kembali jalur pelayaran global tersebut.
Namun, efektivitas langkah ini masih dipertanyakan. Analis dari Washington Institute for Near East Policy Noam Raydan mengatakan, data pelacakan menunjukkan satu tanker sempat berbalik arah, tetapi banyak kapal yang mengangkut minyak Iran beroperasi tanpa pelacakan (going dark).
“Kita belum tahu seberapa efektif langkah ini. Ini baru hari kedua,” ujarnya.
Komando Pusat AS menyebut, setidaknya enam kapal niaga telah mengikuti instruksi untuk kembali ke pelabuhan Iran.
Sejauh ini, belum ada kapal yang berhasil melewati blokade sejak diberlakukan.
Operasi Militer Besar-Besaran
Blokade ini melibatkan lebih dari 10.000 personel militer AS, lebih dari selusin kapal perang, serta puluhan pesawat.
Meski demikian, AS tetap menyatakan akan menjamin kebebasan navigasi bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz selama tidak terkait dengan Iran.
Langkah blokade diambil setelah perundingan akhir pekan antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak di atas US$ 100 per barel sebelum kembali mereda karena harapan negosiasi lanjutan.
Risiko Eskalasi dan Dampak Global
Para analis menilai blokade ini berpotensi memperburuk situasi. Selain dianggap sebagai tindakan perang, kebijakan tersebut juga dapat memicu balasan dari Iran dan menekan gencatan senjata yang masih rapuh.
Konflik ini telah menyebabkan harga minyak global melonjak sekitar 50% serta menewaskan sekitar 5.000 orang.
Di sisi lain, meskipun serangan militer AS dan sekutunya telah melemahkan kekuatan Iran, analis menilai Teheran tetap menjadi tantangan besar, dengan kepemimpinan yang semakin keras dan cadangan uranium yang masih signifikan.
Jika blokade berlangsung lama dan efektif, risiko serangan balasan termasuk terhadap negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS diperkirakan akan meningkat.
“Kita saat ini masih dalam fase uji coba,” kata Raydan.











